Tribun
Deutsche Welle

Para Ilmuwan Mendeteksi Varian Baru COVID-19 di Afrika Selatan

Menteri Kesehatan Afrika Selatan mengatakan varian virus corona baru B.1.1.529 menjadi “perhatian serius”. Dikatakan para ilmuwan,…

Francois Balloux, Direktur Institut Genetika UCL pada Science Media Center, mengatakan varian tersebut bisa ditemukan di bagian lain Afrika.

"Untuk saat ini harus dipantau dan dianalisis secara ketat, tidak ada alasan untuk terlalu khawatir, kecuali jika frekuensinya mulai meningkat dalam waktu dekat," kata Balloux.

Para ilmuwan meyakini hingga 90% kasus baru di Provinsi Gauteng sebagai varian B.1.1.529.

Afrika Selatan Mendesak pertemuan dengan WHO

Afrika Selatan telah menyampaikan temuan varian baru pada WHO dan mendesak untuk melakukan pertemuan pada Jumat (26/11).

Peneliti dari Network for Genomic Surveillance di Afrika Selatan mengatakan tes PCR saat ini mampu mendeteksi varian tersebut, yang sudah ditemukan di Botswana dan Hong Kong terhadap orang yang melakukan perjalanan dari Afrika Selatan.

Afrika Selatan adalah negara pertama yang mendeteksi varian beta tahun lalu, satu dari hanya empat yang diberi label "varian yang menjadi perhatian" oleh WHO atas bukti bahwa varian tertentu lebih menular dan vaksin kurang efektif melawannya.

Ragu untuk divaksin

Afrika Selatan mencatat jumlah kasus tertinggi sejak awal pandemi, yakni 2,95 juta, dimana 89.657 kasus di antaranya berakibat fatal.

Lebih dari 25 juta vaksin telah diberikan tetapi hanya 35,2% dari populasi orang dewasa yang divaksinasi lengkap.

Awal pekan ini, Kementerian Kesehatan meminta perusahaan Johnson&Johnson untuk menangguhkan pengiriman vaksin COVID-19 karena masih memiliki stok yang cukup.

Phaahla mengatakan jumlah orang yang divaksinasi di Afrika Selatan menurun dan mereka tidak mencapai target 250.000 vaksinasi sehari.

bh/rap (AFP, Reuters, AP)

Sumber: Deutsche Welle
Ikuti kami di
  Tribun JualBeli
© 2022 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas