Tribun

Virus Corona

Alasan WHO Lompati Dua Alfabet untuk Menamai Varian Omicron, Ada Hubungannya dengan Xi Jinping?

Penamaan 'Omicron' terhadap varian B.1.1.529 yang diidentifikasi di Afrika Selatan menuai kontroversi lantaran melompati alphabet 'Nu' dan 'Xi'

Penulis: Ika Nur Cahyani
Editor: Tiara Shelavie
Alasan WHO Lompati Dua Alfabet untuk Menamai Varian Omicron, Ada Hubungannya dengan Xi Jinping?
Christopher Black / Organisasi Kesehatan Dunia / AFP
Gambar selebaran ini diambil dan dirilis pada 12 Februari 2021 oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menunjukkan Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus menyampaikan sambutannya saat konferensi pers pada 12 Februari 2021 di Jenewa. 

TRIBUNNEWS.COM - Varian B.1.1.529 yang diidentifikasi di Afrika Selatan belakangan dikenal dengan nama Omicron setelah ditetapkan WHO.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memang sejak awal menamai sejumlah varian baru Covid-19 menggunakan alfabet Yunani.

Jika mengikuti urutan alfabet, harusnya varian B.1.1.529 dinamai "Nu" dan "Xi".

Namun WHO melompati dua alfabet ini dan menyebut varian asal Afrika Selatan sebagai "Omicron".

Sejumlah media mempertanyakan hal itu, dan mengaitkannya dengan kemiripan nama Presiden China Xi Jinping.

Dilansir SCMP, sebelum varian Omicron dinyatakan sebagai variant of concern oleh WHO, varian Covid-19 terakhir diberi nama "Mu". 

Baca juga: Varian Covid-19 Omicron Mengancam, Ini Daftar Negara yang Dilarang Masuk Indonesia

Baca juga: Pria Namibia Positif Covid-19 Saat Masuk Jepang, Kemenkes Analisis Kemungkinan Strain Omicron

Protein lonjakan Omicron dengan mutasi baru terlihat dalam warna merah, biru, emas dan hitam.
Protein lonjakan Omicron dengan mutasi baru terlihat dalam warna merah, biru, emas dan hitam. (Pusat Penelitian Virus di Universitas Glasgow)

Mu ada di urutan ke-12 dalam alfabet Yunani.

Sedangkan di urutan setelahnya ada Nu, Xi, dan Omicron.

"'Nu' terlalu mudah dikacaukan dengan kata 'new (baru)', dan 'Xi' tidak digunakan karena itu adalah nama belakang yang umum," ujar WHO dalam sebuah pernyataan kepada Associated Press.

"Praktik terbaik untuk penamaan penyakit menyarankan menghindari menyebabkan pelanggaran terhadap kelompok budaya, sosial, nasional, regional, profesional atau etnis," jelas WHO.

Halaman
123
Sumber: TribunSolo.com
Ikuti kami di
© 2022 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas