Volltexte
Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●
Deutsche Welle

Dianggap Jadi Sarang Kebencian, Jerman Beri Telegram Peringatan Keras

Tindakan ekstrimisme banyak memanfaatkan layanan pesan untuk memicu kebencian dan kekerasan. Jerman mengeluarkan peringatan keras…

Tayang:
Baca & Ambil Poin

Pada Januari 2022, anggota gerakan protes Querdenker (pemikir lateral) Jerman memposting foto aplikasi pesan Telegram dari perdana menteri negara bagian timur Mecklenburg-Western Pomerania, Manuel Schwesig.

"Dia akan dibawa pergi.. baik dengan mobil patroli atau dengan mobil jenazah, tapi dia akan dibawa pergi,” tulis keterangan tersebut.

Beberapa minggu sebelumnya, pengunjuk rasa sudah bersiap mendatangi rumah Schwesig, memprotes pembatasan kontak dan dihentikan polisi sebelum mereka tiba di lokasi.

Dalam beberapa hari, pihak berwenang mengumumkan akan menyelidiki ancaman pembunuhan tersebut. Namun, dalam wawancara oleh lembaga penyiaran publik NDR, Menteri Dalam Negeri, Christian Pagel mengaku tidak mudah menemukan penulisnya.

"Setidaknya jika kami mengandalkan Telegram untuk bekerja sama dengan kami, ini akan sulit,” katanya.

Insiden tersebut menggambarkan bagaimana negara dengan ekonomi terbesar Eropa, berjuang melawan ujaran kebencian dan ancaman terhadap politisi, jurnalis dan aktivis yang beredar lewat aplikasi tersebut.

Rekomendasi Untuk Anda

Tidak seperti platform media sosial lainnya termasuk Facebook atau Google Youtube, perusahaan telah menolak bekerja sama dengan pihak berwenang, sehingga mendorong pemerintah Jerman untuk mengumumkan tindakan keras.

"Telegram harus mematuhi hukum kita,” atau bisa menghadapi denda juutaan, kata Menteri Kehakiman Jerman, Marco Buschmann, dari Demokrat Bebas Liberal (FDP) kepada surat kabar Bild am Sonntag.

Menteri Dalam Negeri Federal, Nancy Faeser, seorang Sosial Demokrat (SPD), dalam sebuah wawancara dengan Die Zeit mengatakan bahwa pemerintahnya mempertimbangkan untuk memblokir aplikasi sebagai "rasio ultima,” atau upaya terakhir.

Sementara itu, pakar teknologi menyebut jika menyalahkan Telegram dianggap terlambat, termasuk aturan yang lebih keras tidak bisa menyelesaikan masalah.

"Kami membutuhkan lebih banyak keahlian di antara polisi dan jaksa untuk mengatasi masalah ini,” kata co-direktur Center for Minitoring, Analysis and Strategy (CeMAS) nirlaba, Josef Holnburger.

Bagaiman Telegram berubah menjadi sarang kebencian?

Penolakan Telegram untuk bekerja sama dengan pihak berwenang, dalam banyak hal, sudah tertanam dalam DNA-nya. Perusahaan ini didirikan pada 2013 oleh pengusaha Rusial Pavel dan Nikolia Durov dengan janji bahwa pengguna dapat berkomunikasi di luar jangkauan pemerintah.

Sejak itu, telegram telah memberikan perlindungan kepada para pembangkang dari Belarus hingga Iran, membantu mereka mengatur pekerjaan mereka dan bertukar informasi tentang penindasan pemerintah.

Tetapi filosofi lepas tangan ini telah mengubah pembawa pesan menjadi tempat yang aman bagi para ahli teori konspirasi dan ekstremis-khususnya setelah banyak yang dilarang dari platform media sosial yang lebih besar.

Sumber: Deutsche Welle
Halaman 1/3
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di
Berita Populer
Atas