Studi di Inggris: Dua Pertiga Orang yang Terpapar Omicron Pernah Positif Covid-19 Sebelumnya
Dalam studi terbaru, sebagain besar kasus Omicron yang ada di Inggris merupakan kasus infeksi ulang.
Penulis:
Tiara Shelavie
Editor:
Miftah
TRIBUNNEWS.COM - Varian Omicron Covid-19 telah menggantikan varian Delta yang sebelumnya dominan di Inggris.
Dalam studi terbaru, sebagain besar kasus Omicron yang ada merupakan kasus infeksi ulang.
Dilansir CNBC, studi REACT Imperial College London – yang diperbarui setiap bulan sejak Mei 2020 – menganalisis 100.607 hasil tes PCR dari seluruh Inggris.
Swab dikumpulkan antara 5 Januari hingga 20 Januari 2022.
Studi ini menemukan bahwa 99% dari swab positif merupakan varian omicron, sedangkan hanya 1% infeksi yang disebabkan oleh varian delta.
"Kami mengamati tingkat infeksi SARS-CoV-2 yang belum pernah terjadi sebelumnya di Inggris pada Januari 2022 dan penggantian delta oleh omicron yang hampir secara keseluruhan," kata penulis penelitian dalam makalah mereka yang dirilis Rabu (26/1/2022).
Baca juga: PM Inggris Boris Johnson Diduga Gelar Pesta Miras hingga Ultah saat Lockdown Covid-19
Baca juga: Inggris Peringatkan Penyakit AMR, Disebut Lebih Mematikan Daripada HIV/AIDS
Kemampuan infeksi ulang
Dua pertiga dari 3.582 peserta yang dites positif pada Januari melaporkan bahwa mereka sudah pernah dniyatakan positif Covid-19 sebelumnya.
Sementara itu, 7,5% dari peserta yang terinfeksi mengatakan mereka sempat curiga terpapar virus, tetapi tidak dikonfirmasi dengan tes.
Ketika varian Covid-19 sebelumnya beredar di populasi, diperkirakan bahwa infeksi Covid sebelumnya dapat memberikan antibodi.
Namun ada kekhawatiran hal ini tidak berlaku pada Omicron.
Pejabat kesehatan Inggris memperkirakan pada bulan Desember bahwa risiko infeksi ulang dengan Omicron adalah 5,4 kali lebih besar daripada varian Delta.
Para peneliti mencatat pada hari Rabu bahwa penularan omicron sekarang telah menyebabkan prevalensi Covid-19 tertinggi yang pernah diamati dalam studi REACT.
"Vaksinasi (termasuk kampanye booster) tetap menjadi andalan pertahanan melawan Covid-19 mengingat tingkat perlindungan yang tinggi terhadap rawat inap," kata tim peneliti.
"Namun, tindakan lebih lanjut di luar vaksinasi mungkin diperlukan jika tingkat infeksi omicron yang sangat tinggi tetap ada, meskipun omicron tampaknya secara intrinsik lebih kecil kemungkinannya untuk menyebabkan penyakit parah."
Baca juga: Kasus Covid-19 Omicron Sub-Varian BA.2 Ditemukan Di 22 Negara Bagian Amerika Serikat
Baca juga: Tiga Cara Tingkatkan Imunitas Tubuh di Tengah Ancaman Omicron