Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●
BBC

Bitcoin: Bagaimana Kazakhstan menjadi penambang kripto terbesar kedua di dunia

Pada 2021, Kazakhstan menjadi negara penambang mata uang kripto terbesar kedua di dunia setelah Amerika Serikat, tapi apa harga yang harus dibayar

Tayang:
Baca & Ambil Poin

Tahun lalu, ketika China tiba-tiba melarang penambangan mata uang kripto, industri ini berkembang pesat di negara tetangganya, Kazakhstan. Negara di Asia Tengah ini sekarang adalah penambang terbesar kripto kedua di dunia, namun pusat-pusat data yang menyedot energi besar memberi tekanan kuat pada pembangkit listrik tenaga batu bara - meningkatkan polusi dan emisi karbon.

Moldir Shubayeva berjalan berkeliling di dalam sebuah gedung berdebu yang merupakan tempat menambang Bitcoin miliknya.

Tempat ini baru-baru ini saja berfungsi sebagai pertambangan mata uang kripto, dan sebagai seorang perempuan, sosoknya menonjol di antara para pekerja konstruksi dan pekerja harian yang memenuhi bangunan itu.

Moldir, 35 tahun, hari itu mengenakan pakaian bergaya smart casual. Dari balik kacamata dengan lensa berwarna semburat kekuningan, ia memperhatikan gulungan kabel-kabel besar di dalam kontainer, siap dipindahkan ke gudang.

Moldir adalah satu dari sejumlah wirausaha-kripto yang mulai bermunculan di Kota Almaty, Kazakhstan.

Ia menjadi karakter besar di industri yang didominasi oleh pria ini, dan dihormati sejawatnya karena berhasil membesarkan perusahaan pertambangannya menjadi salah satu yang terbesar di negara tersebut.

"Saya menghabiskan empat tahun terakhir hidup saya untuk bekerja, bahkan tak jarang saya tidur di kantor," kata dia.

Rekomendasi Untuk Anda

Moldir mulai tertarik pada Bitcoin sekitar lima tahun lalu, dan mulai menambang kripto bersama saudara laki-lakinya di rumah, sebelum membangun beberapa pertambangan yang lebih besar, lalu menyewakannya.

Dia berkata, pertumbuhan bisnisnya, dan industri ini secara keseluruhan di Kazakhstan, sangat pesat - terutama setahun terakhir.

"Pagi saya diawali dengan mengecek harga Bitcoin, untuk melihat pertumbuhannya. Jika harganya menembus US$50.000 per koin, saya langsung bersemangat. Adrenalin saya langsung terpompa."

Baca juga:

  • Bank Dunia tolak negara pertama yang berencana resmi pakai Bitcoin
  • El Salvador resmi mulai pakai Bitcoin, warganya 'harap-harap cemas'
  • Bisakah mendirikan 'negara baru' dengan menggunakan Bitcoin?

Harga Bitcoin sendiri naik dan turun secara dramatis. Pada Maret 2020, satu Bitcoin berharga sekitar US$5.000 (sekitar Rp71 juta) dan naik menjadi US$65.000 (setara dengan Rp935 juta) dalam setahun.

Sejak itu, harganya merosot secara signifikan, menjadi sekitar US$35.000 saat artikel ini ditulis.

Namun bagi Moldir dan banyak pengusaha Bitcoin lain di Kazakhstan, penambangan kripto telah membuat mereka kaya raya.

Emas digital

Sumber: BBC Indonesia
Halaman 1/4
BBC
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di
Berita Populer
Atas