Tribun

Konflik Rusia Vs Ukraina

Pengamat Maritim Sebut Konflik Rusia-Ukraina Berdampak Bagi Dunia Kemaritiman dan Pelaut Indonesia

terlepas dari kita tidak mendukung sama sekali adanya perang ini, konflik Rusia dan Ukraina ini dapat memberi dampak positif bagi dunia kemaritiman

Penulis: Eko Sutriyanto
Editor: Johnson Simanjuntak
zoom-in Pengamat Maritim Sebut Konflik Rusia-Ukraina Berdampak Bagi Dunia Kemaritiman dan Pelaut Indonesia
AFP/SERGEY BOBOK
Pemandangan alun-alun di luar balai kota Kharkiv yang rusak pada 1 Maret 2022, hancur akibat penembakan pasukan Rusia. - Alun-alun pusat kota kedua Ukraina, Kharkiv, ditembaki oleh pasukan Rusia yang menyerang gedung pemerintah setempat, kata gubernur regional Oleg Sinegubov. Kharkiv, kota yang sebagian besar berbahasa Rusia di dekat perbatasan Rusia, memiliki populasi sekitar 1,4 juta. (Photo by Sergey BOBOK / AFP) 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Konflik antara Rusia dan Ukraina apabila sampai berujung penutupan jalur pipanisasi minyak dan gas yang menuju negara-negara Uni Eropa serta sanksi ekonomi yang ditujukan kepada Rusia yang memicu terhambatnya ekspor batubara Rusia dapat memberi efek positif bagi dunia maritim dan pelaut Indonesia.  

Pengamat Maritim, Marcellus Hakeng Jayawibawa mengatakan, terlepas dari kita tidak mendukung sama sekali adanya perang ini, konflik Rusia dan Ukraina ini dapat memberi dampak positif bagi dunia kemaritiman Indonesia.

"Termasuk para pelaut Indonesia, karena naiknya kebutuhan distribusi BBM, gas dan batubara ke Eropa serta China nantinya akan menggunakan kapal, maka akan berimbas peningkatan kebutuhan pelaut yang akan bekerja di atas kapal dimana tentunya pelaut Indonesia bisa bekerja di atasnya," katanya, Kamis (3/3/2022).

Penutupan jalur pipa gas itu di satu sisi dapat dimanfaatkan oleh negara Indonesia dengan menjadi pemasok kebutuhan gas pengganti.

"Pastinya akan ada kebutuhan pengganti dari kebutuhan gas yang dipasok oleh Rusia ke negara Uni Eropa karena 30 persen total kebutuhan gas Uni Eropa dipenuhi dari Rusia yang pengirimannya dilakukan melalui jalur pipa," katanya.

Baca juga: Harga Minyak Melonjak Makin Tinggi Dikhawatirkan Picu Krisis Biaya Hidup Global

Juga terganggunya pasokan batubara dari Rusia untuk China juga tentunya akan berdampak besar karena Rusia merupakan negara eksportir Batubara nomor dua ke China saat ini menemui kesulitan untuk dapat melakukan proses jual beli batubaranya dikarenakan sanksi ekonomi yang diberikan oleh Amerika dan sekutunya.

"Di sini Kita bisa berperan dalam distribusi crude oil, batu bara ataupun LNG. Jadi, harusnya kita bersiap, baik dari sisi komoditasnya maupun kapal-kapal pengangkutannya," kata Hakeng. 

Pendiri dan Pengurus dari Perkumpulan Ahli Keamanan dan Keselamatan Maritim Indonesia (AKKMI) mendorong pihak Indonesian National Shipowners Association (INSA) untuk dapat melihat serta memanfaatkan peluang ini.

Misalnya dengan mendorong anggota INSA menyediakan kapal-kapal pengangkut Crude oil, batubara maupun LNG.  

"Pemerintah Indonesia juga harus bisa mendorong INSA untuk mengambil peluang ini.

Pemerintah harusnya dapat melakukan pemetaan terkait peningkatan kebutuhan batubara dalam waktu dekat dari Eropa dan China serta meminta para pengusaha batubara untuk melakukan persiapan mengantisipasinya," katanya.

Hakeng menyebutkan,  Perdana Menteri Italia, Mario Draghi menyatakan akan  mengaktifkan kembali pembangkit batu bara akibat dari kenaikan harga gas alam di Eropa.

Italia merupakan salah satu negara yang bergantung pada pasokan gas dari Rusia sebab, 45 persen gas diimpor dari Rusia dan mengalami peningkatan sekitar 27 persen dalam 10 tahun terakhir.

Pengusaha batubara Indonesia berpeluang melakukan perdagangan batubara dengan Italia atau negara eropa lainnya, apalagi  Indonesia tercatat sebagai negara keempat di dunia sebagai pengekspor batubara

© 2023 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas