Nikmati berita interaktif dan LIVE report 24 jam hanya di TribunX
Tribun

Alasan Vladimir Putin Tetap Serang Ukraina Meski Bisa Akhiri Perang Rusia

Presiden Rusia, Vladimir Putin, menyatakan, operasi militer di Ukraina dapat berhenti jika tuntutannya dikabulkan

Penulis: Facundo Chrysnha Pradipha
Editor: Sri Juliati
zoom-in Alasan Vladimir Putin Tetap Serang Ukraina Meski Bisa Akhiri Perang Rusia
AFP
Presiden Rusia Vladimir Putin bertemu dengan anggota parlemen yang baru terpilih dari Duma Negara, majelis rendah parlemen Rusia, di Moskow pada 12 Oktober 2021. 

TRIBUNNEWS.COM - Invasi Rusia di Ukraina bisa saja dihentikan.

Adalah Presiden Rusia, Vladimir Putin, yang memegang kendali termasuk serangan-serangan tentara Rusia ke Ukraina.

Putin menyatakan, operasi militer dapat berhenti jika tuntutannya dikabulkan.

Demikian diungkapkan Putin kepada Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan melalui telepon, diberitakan BBC.

Rusia menegaskan, invasinya ke Ukraina melalui darat, udara dan laut adalah operasi militer khusus.

Menurut Putin adalah itu operasi tanpa bukti, diperlukan untuk "denazifikasi" negara itu.

Baca juga: Anggota NATO Diberi Lampu Hijau untuk Kirim Jet Tempur ke Ukraina

Putin menegaskan bahwa serangan yang terjadi belakangan telah sesuai rencana dan terjadwal.

Berita Rekomendasi

Dia telah membuat komentar serupa dalam beberapa hari terakhir, di tengah vonis dari analis pertahanan Barat bahwa konvoi militer Rusia berjalan kurang baik dari yang diharapkan.

Menurut pernyataan Kremlin, Putin berharap negosiator Ukraina akan mengambil pendekatan yang lebih "konstruktif".

Kantor Pemerintahan Erdogan mengatakan, telah meminta gencatan senjata secara mendesak.

Alasan Putin

Dituliskan Kompas TV, Presiden Rusia Vladimir Putin blak-blakan membongkar dan membeberkan alasan pamungkas mengapa ngotot mengejar tuntutan Rusia untuk demiliterisasi, denazifikasi, dan netralitas mutlak Ukraina untuk tidak bergabung dengan NATO, tidak bisa ditawar-tawar sama sekali.

Petugas pemadam kebakaran memadamkan api di blok apartemen bertingkat tinggi yang dilanda penembakan baru-baru ini di Kyiv pada 26 Februari 2022. - Tentara Ukraina memukul mundur serangan Rusia di ibu kota, kata militer pada 26 Februari setelah Presiden Volodymyr Zelensky yang membangkang bersumpah pro -Negara Barat tidak akan tunduk pada Moskow. Ini dimulai pada hari ketiga sejak pemimpin Rusia Vladimir Putin melancarkan invasi skala penuh yang telah menewaskan puluhan orang, memaksa lebih dari 50.000 orang meninggalkan Ukraina hanya dalam 48 jam dan memicu kekhawatiran akan konflik yang lebih luas di Eropa. (Photo by GENYA SAVILOV / AFP)
Petugas pemadam kebakaran memadamkan api di blok apartemen bertingkat tinggi yang dilanda penembakan baru-baru ini di Kyiv pada 26 Februari 2022. - Tentara Ukraina memukul mundur serangan Rusia di ibu kota, kata militer pada 26 Februari setelah Presiden Volodymyr Zelensky yang membangkang bersumpah pro -Negara Barat tidak akan tunduk pada Moskow. Ini dimulai pada hari ketiga sejak pemimpin Rusia Vladimir Putin melancarkan invasi skala penuh yang telah menewaskan puluhan orang, memaksa lebih dari 50.000 orang meninggalkan Ukraina hanya dalam 48 jam dan memicu kekhawatiran akan konflik yang lebih luas di Eropa. (Photo by GENYA SAVILOV / AFP) (AFP/GENYA SAVILOV)

Ternyata alasannya tentang kapasitas dan kapabilitas Ukraina untuk membangun senjata nuklir, dan potensi Ukraina menggunakan senjata itu untuk mengancam eksistensi Rusia.

“Sekarang mereka berbicara tentang memperoleh status nuklir. Artinya memperoleh senjata nuklir. Kita tidak bisa mengabaikan hal-hal seperti itu."

Halaman
12
Sumber: TribunSolo.com
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di
×

Ads you may like.

© 2025 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas