Bila China Benar-benar Menginvasi, Taipei Siapkan Perlawanan Ala Ukraina
Karenanya dengan invasi Rusia ke Ukraina, China disebut-sebut ingin meniru langkah itu untuk merebut Taiwan.
Editor:
Hendra Gunawan
TRIBUNNEWS.COM, TAIPEI -- Menyusul invasi Rusia ke Ukraina, suhu politik di Asia Timur juga mulai memanas.
China dikabarkan meprovokasi Taiwan dengan menerbangi wilayahnya dengan pesawat tempur.
Taiwan selama ini dianggap oleh China sebagai bagian dari negeri tirai bambu tersebut.
Karenanya dengan invasi Rusia ke Ukraina, China disebut-sebut ingin meniru langkah itu untuk merebut Taiwan.
Namun demikian, bukan hal yang mudah bila China akan menginvasi Taiwan.
Baca juga: Boikot ke Rusia Berimbas Harga Energi Melambung, Putin Tuding Negara Barat yang Salah Perhitungan
Ahli strategi militer Taiwan telah mempelajari invasi Rusia ke Ukraina. Dan, perlawanan Ukraina akan menjadi strategi pertempuran Taiwan jika terjadi perang dengan China.
"Ukraina, di bawah kondisi yang tidak menguntungkan dari musuh yang lebih besar dari mereka, telah secara efektif menahan serangan militer Rusia," kata Kementerian Pertahanan Taiwan dalam laporan kepada parlemen pada Kamis (10/3), seperti dilansir Reuters.
Militer Taiwan telah "merujuk" pengalaman Ukraina untuk bisa memanfaatkan pertempuran di tanah airnya dan sudah memasukkan "perang asimetris" ke dalam perencanaan, Kementerian Pertahanan Tawian menambahkan.
Presiden Taiwan Tsai Ing-wen telah memperjuangkan gagasan "perang asimetris", untuk membuat pasukannya lebih mobile dan sulit diserang, misalnya, dengan memasang rudal di kendaraan.
Baca juga: Tak Ada Kemajuan dalam Pertemuan Rusia dan Ukraina, Kyiv Menolak Tuntutan Rusia
Hanya, tidak peduli siapa yang menang dalam perang di masa depan antara Taiwan dan China, itu akan menjadi "kemenangan yang menyedihkan", Menteri Pertahanan Taiwan Chiu Kuo-cheng mengatakan pada Kamis (10/3/2022).
Menurut Chiu, kedua belah pihak akan membayar harga yang mahal jika terjadi konflik antara China dan Taiwan, dengan Beijing telah berjanji untuk merebut kembali pulau itu, dengan kekerasan jika perlu.
“Jika terjadi perang, terus terang, semua orang akan sengsara, bahkan untuk pemenangnya,” katanya, seperti dikutip Reuters.
"Seseorang harus benar-benar memikirkan ini," ungkap Chiu sebelum sesi parlemen Taiwan tentang implikasi keamanan dari invasi Rusia ke Ukraina. "Semua orang harus menghindari perang".
Sementara Taiwan telah meningkatkan tingkat siaganya sejak perang di Ukraina, Taipe melaporkan, tidak ada kegiatan militer China yang tidak biasa.
Meskipun, Angkatan Udara China terus melakukan misi sesekali ke zona identifikasi pertahanan udara Taiwan.
Baca juga: Presiden Taiwan Sumbangkan Gajinya Untuk Bantu Ukraina