Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●

Imbas Krisis Ekonomi, 26 Menteri Sri Lanka Mengundurkan Diri

Setelah protes besar-besaran atas penanganan pemerintah terhadap krisis ekonomi, 26 menteri Sri Lanka telah mengundurkan diri secara massal.

Tayang:
Baca & Ambil Poin
zoom-in Imbas Krisis Ekonomi, 26 Menteri Sri Lanka Mengundurkan Diri
AFP/ISHARA S. KODIKARA
Polisi mencoba menghentikan demonstran selama protes terhadap kenaikan biaya hidup, di luar kantor pinggir laut Presiden Gotabaya Rajapaksa di Kolombo pada 18 Maret 2022. Krisis ekonomi yang melanda membuat 26 menteri Sri Lanka mengundurkan diri. 

TRIBUNNEWS.COM - Para menteri kabinet Sri Lanka telah mengundurkan diri secara massal setelah protes atas penanganan pemerintah terhadap krisis ekonomi terburuk dalam beberapa dekade.

Semua 26 menteri mengajukan surat pengunduran diri, kecuali Perdana Menteri Mahinda Rajapaksa dan Presiden Gotabaya Rajapaksa, sebagaimana dilansir BBC.

Sebelumnya, pengunjuk rasa turun ke jalan dan menentang jam malam untuk turun ke jalan di beberapa kota, Minggu (3/4/2022).

Negara ini bergulat dengan krisis ekonomi terburuk sejak kemerdekaan dari Inggris pada tahun 1948.

Hal ini sebagian disebabkan oleh kurangnya mata uang asing, yang digunakan untuk membayar impor bahan bakar.

Baca juga: Krisis di Sri Lanka, India Memasok 40 Ribu Ton Beras ke Kolombo

Baca juga: Krisis di Sri Lanka, Pemerintah Umumkan Keadaan Darurat saat Protes Makin Meluas

Dengan pemadaman listrik yang berlangsung setengah hari atau lebih, serta kekurangan makanan, obat-obatan, dan bahan bakar, kemarahan publik telah mencapai titik tertinggi baru.

Menteri Pendidikan Dinesh Gunawardena mengatakan kepada wartawan pada hari Minggu, bahwa menteri kabinet telah menyerahkan surat pengunduran diri mereka kepada perdana menteri.

Rekomendasi Untuk Anda

Putra perdana menteri sendiri, Namal Rajapaksa, termasuk di antara mereka yang mengundurkan diri, mencuit bahwa dia berharap itu akan membantu "keputusan presiden dan PM untuk membangun stabilitas bagi rakyat dan pemerintah."

Namun, banyak pengunjuk rasa yang menuduh presiden dan keluarganya yang harus disalahkan atas situasi di negara itu marah pada kenyataan bahwa ia akan tetap berkuasa.

Pada hari Minggu, ribuan orang di seluruh negeri menentang perintah jam malam dan pemberitahuan khusus yang melarang siapa pun berada di jalan umum, di taman, di kereta api, atau di pantai kecuali mereka memiliki izin tertulis dari pihak berwenang.

Demonstran berpartisipasi dalam protes ratusan orang di luar rumah Presiden Sri Lanka Gotabaya Rajapaksa untuk menyerukan pengunduran dirinya karena krisis ekonomi negara yang belum pernah terjadi sebelumnya memburuk di Kolombo, pada 31 Maret 2022. - Protes yang mencoba menyerbu rumah Presiden Sri Lanka Gotabaya Rajapaksa berubah menjadi kekerasan pada 31 Maret 2022, dengan setidaknya satu orang terluka parah, ketika warga mengecam penanganan pemerintah terhadap krisis ekonomi yang melumpuhkan negara itu. (Photo by Ishara S. KODIKARA / AFP)
Demonstran berpartisipasi dalam protes ratusan orang di luar rumah Presiden Sri Lanka Gotabaya Rajapaksa untuk menyerukan pengunduran dirinya karena krisis ekonomi negara yang belum pernah terjadi sebelumnya memburuk di Kolombo, pada 31 Maret 2022. - Protes yang mencoba menyerbu rumah Presiden Sri Lanka Gotabaya Rajapaksa berubah menjadi kekerasan pada 31 Maret 2022, dengan setidaknya satu orang terluka parah, ketika warga mengecam penanganan pemerintah terhadap krisis ekonomi yang melumpuhkan negara itu. (Photo by Ishara S. KODIKARA / AFP) (AFP/ISHARA S. KODIKARA)

Jam malam, bersama dengan larangan situs media sosial termasuk Facebook, WhatsApp, dan Twitter, dimaksudkan untuk menghentikan hari protes yang direncanakan, setelah demonstrasi di luar rumah presiden pada Kamis malam berubah menjadi kekerasan.

Demonstrasi menandai perubahan besar dalam popularitas Rajapaksa yang meraih kekuasaan dengan kemenangan mayoritas pada 2019, menjanjikan stabilitas dan "tangan kuat" untuk memerintah negara.

Unjuk Rasa di Beberapa Kota

Masih dilansir BBC, pada Minggu, di ibu kota Kolombo, pengunjuk rasa oposisi berhadapan dengan pasukan keamanan selama beberapa jam sebelum bubar dengan damai.

Namun, di kota Kandy, polisi menembakkan gas air mata dan meriam air ke arah mahasiswa.

Halaman 1/2
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di
Berita Populer
Atas