Swedia Berupaya Mencari Dukungan Luas untuk Gabung ke NATO
Dukungan publik agar Swedia bergabung dengan NATO telah melonjak sebanyak 60 persen yang sebelumnya hanya 40 persen
Penulis: Nur Febriana Trinugraheni
Editor: Muhammad Zulfikar
Laporan Wartawan Tribunnews, Nur Febriana Trinugraheni
TRIBUNNEWS.COM, STOCKHOLM - Perdana Menteri Swedia Magdalena Andersson pada hari Minggu (15/5/2022) kemarin mengumumkan akan mencari dukungan luas agar dapat bergabung dengan NATO.
Serangan Rusia pada Ukraina, telah mendorong Swedia dan Finlandia untuk bergabung dengan NATO.
Langkah ini diambil saat dua negara ini berusaha menemukan perlindungan dan keamanan dengan menjadi anggota aliansi militer ini.
Baca juga: Turki akan Lakukan Pembicaraan dengan Swedia dan Finlandia Mengenai Keanggotaan NATO
Perang di Ukraina yang menewaskan ribuan orang dan membuat jutaan warga Ukraina mengungsi, telah menghancurkan kebijakan keamanan lama dan memicu gelombang dukungan publik untuk keanggotaan NATO di dua negara ini.
Setelah perdebatan internal dalam seminggu terakhir, Andersson mengatakan keputusan Swedia untuk bergabung dengan NATO merupakan langkah terbaik untuk mempertahankan keamanan Swedia dan rakyatnya.
“Ini hal terbaik untuk keamanan Swedia dan rakyat Swedia. Non-blok telah melayani kami dengan baik, tetapi kesimpulan kami adalah bahwa itu tidak akan melayani kami dengan baik di masa depan,” kata Andersson, yang dikutip dari Reuters.
Sementara di Finlandia, Presiden Sauli Niinisto mengonfirmasi niat negaranya untuk bergabung dengan NATO pada hari Minggu kemarin, dengan mengatakan Finlandia akan mendapat manfaat jika bergabung ke dalam aliansi militer itu.
Baca juga: Presiden Turki Menentang Finlandia-Swedia Gabung Aliansi NATO, Sebut Rumah bagi Banyak Teroris
“Kami mendapatkan keamanan dan kami juga memperluasnya melalui wilayah laut Baltik dan seluruh aliansi,” ujar Niinisto.
Kedamaian yang didapat Swedia sejak perang Napoleon, membuat negara ini enggan mengesampingkan non-blok. Namun dukungan publik agar Swedia bergabung dengan NATO telah melonjak sebanyak 60 persen, sebelum Rusia memulai invasi ke Ukraina dukungan publik hanya mencapai sekitar 40 persen.
“Saya tidak berpikir itu perlu sebelumnya, tetapi sekarang rasanya lebih baik memiliki negara yang akan membela kita,” kata pekerja toko kue di Swedia, Cecilia Wikstrom.
Namun salah satu anggota NATO yaitu Turki, telah menyatakan keberatannya dengan permohonan keanggotaan Swedia dan Finlandia, walaupun pimpinan NATO Jens Stoltenberg telah berulang kali mengatakan akan menyambut kedua negara tersebut dengan tangan terbuka.
Menteri Luar Negeri Inggris Liz Truss pada hari Minggu kemarin, juga mendesak agar sekutu NATO bergerak cepat untuk menanggapi bergabungnya Swedia dan Finlandia.
Kedua negara ini sebenarnya sudah menjadi mitra NATO dengan ambil bagian dalam latihan sekutu selama bertahun-tahun. Namun sampai saat ini, Swedia dan Finlandia beralasan jika mereka ingin mempertahankan perdamaian dengan tidak bergabung dalam aliansi militer tersebut.
Rusia telah memperingatkan Swedia dan Finlandia mengenai konsekuensi serius dan menyatakan mereka dapat mengerahkan senjata nuklir dan rudal hipersonik di ekslave Eropa Kaliningrad jika kedua negara ini bergabung menjadi anggota NATO.