Tribun

The Fed Naikkan Suku Bunga

Dampak The Fed Naikkan Suku Bunga Acuan, Jumlah Pengangguran Diprediksi Meningkat

Kenaikan suku bunga The Fed yang lebih tinggi dari perkiraan, turut mengindikasikan kemungkinan melambatnya perekrutan tenaga kerja.

Penulis: Fitri Wulandari
Editor: Sanusi
zoom-in Dampak The Fed Naikkan Suku Bunga Acuan, Jumlah Pengangguran Diprediksi Meningkat
Dok. Jobplanet
Ilustrasi : Analis dari University of California Los Angeles (UCLA), Feler memperkirakan bahwa tingkat pengangguran nasional akan naik menjadi 4,5 persen pada akhir tahun, naik dari angka saat ini yang berada pada 3,6 persen. 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Fitri Wulandari

TRIBUNNEWS.COM, NEW YORK - Kenaikan suku bunga Bank Sentral Amerika Serikat (AS) The Fed yang lebih tinggi dari perkiraan, turut mengindikasikan kemungkinan melambatnya perekrutan tenaga kerja.

Bahkan diprediksi akan ada lebih banyak Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) di negara itu.

Pernyataan ini disampaikan Analis dari University of California Los Angeles (UCLA), Feler yang memperkirakan bahwa tingkat pengangguran nasional akan naik menjadi 4,5 persen pada akhir tahun, naik dari angka saat ini yang berada pada 3,6 persen.

Baca juga: The Fed Kerek Suku Bunga Acuan, Ini yang akan Dihadapi Pemegang Kartu Kredit

Saat angka pengangguran naik, maka pertumbuhan upah pun turun dan kondisi ini akan meredam daya beli konsumen.

Dikutip dari laman Los Angeles Times, Jumat (17/6/2022), orang akan khawatir dan berupaya untuk mempertahankan pekerjaan mereka, bahkan cenderung tidak meminta upah yang lebih tinggi.

Mereka yang memiliki pekerjaan berupah rendah atau pekerjaan yang tidak mereka sukai juga akan lebih cenderung bertahan di posisi mereka saat ini, karena takut menjadi pengangguran.

Baca juga: Kenaikan Suku Bunga The Fed Diprediksi Berdampak pada Hipotek Suku Bunga Tetap

"Pertukarannya sekarang adalah bahwa The Federal Reserve (The Fed) bersedia mengorbankan beberapa pekerjaan untuk memastikan inflasi turun. Karena dalam jangka panjang, jika kita terus memiliki tingkat inflasi yang tinggi, itu akan benar-benar merugikan konsumen," kata Feler.

Mirisnya, fenomena ini terjadi pada saat perekrutan tenaga kerja sedang booming di AS.

Pada Mei lalu, negara itu menambahkan hampir 400.000 pekerjaan, dengan angka pengangguran yang tetap berada di level rendah.

Sektor bisnis pun secara keseluruhan sangat ingin merekrut tenaga kerja untuk memenuhi permintaan konsumen terhadap barang.

Meskipun beberapa perusahaan, terutama yang berkembang selama masa pandemi virus corona (Covid-19) seperti Peloton dan Netflix, telah mengalami pemangkasan karyawan.

Diputuskan Naik

The Fed mengumumkan kenaikan suku bunga acuannya ke kisaran 1,5 persen hingga 1,75 persen, setelah menggelar Federal Open Market Committee (FOMC).

Namun komitmen The Fed untuk menaikkan suku bunga untuk mengendalikan inflasi yang melonjak, memicu pengetatan terutama pada pasar kredit perumahan AS, dan kemungkinan akan memperlambat pemintaan di seluruh perekonomian.

Kenaikan suku bunga The Fed pada akhir tahun diperkirakan akan berada di kisaran 3,4 persen, dan akan menjadi rekor tertinggi sejak Januari 2008. Perkiraan ini menjadi peringatan adanya perlambatan ekonomi dalam beberapa bulan mendatang dan meningkatnya jumlah pengangguran.

Namun Ketua The Fed Jerome Powell mengatakan The Fed tidak berniat untuk mendorong resesi ekonomi dan memperbanyak jumlah pengangguran.

"Kami tidak berusaha membuat orang kehilangan pekerjaan, kami juga tidak berusaha menginduksi resesi," ujar Powel, yang dikutip dari Reuters.

© 2022 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas