Tribun

Kudeta Militer di China

Xi Jinping Akhirnya Muncul Pertama Kalinya setelah Rumor 'Kudeta' di China

Kemunculannya tersebut menghilangkan desas-desus yang tidak terverifikasi bahwa dirinya menjadi tahanan rumah.

Penulis: Fitri Wulandari
Editor: Johnson Simanjuntak
zoom-in Xi Jinping Akhirnya Muncul Pertama Kalinya setelah Rumor 'Kudeta' di China
Noel Celis / AFP
Xi Jinping Akhirnya Muncul Pertama Kalinya setelah Rumor 'Kudeta' di China 

TRIBUNNEWS.COM, BEIJING - Presiden China Xi Jinping mengunjungi sebuah pameran di Beijing, China pada Selasa kemarin, dalam penampilan publik pertamanya sejak kembali ke negara itu dari perjalanan resminya ke Asia Tengah pada pertengahan September ini.

Kemunculannya tersebut menghilangkan desas-desus yang tidak terverifikasi bahwa dirinya menjadi tahanan rumah.

Dikutip dari laman Al Jazeera, Rabu (28/9/2022), Xi telah absen dari hadapan publik sejak kembali ke China dari pertemuan di Uzbekistan.

Tidak tampaknya Xi saat itu mendorong spekulasi yang tidak berdasar tentang kudeta militer di negara itu.

Meskipun negara itu menghadapi ekonomi yang nyaris mati, pandemi virus corona (Covid-19) yang masih berlangsung, serta meningkatnya friksi dengan Barat dan ketegangan atas Taiwan, Xi dikabarkan akan mengamankan masa jabatan ketiganya untuk mengejar visi besarnya yakni 'peremajaan China' untuk tahun-tahun mendatang.

Xi terus mengkonsolidasikan kekuatan dan menghilangkan ruang untuk perbedaan pendapat dan oposisi sejak menjadi Sekretaris Jenderal partai satu dekade lalu.

China juga menjadi jauh lebih tegas di panggung global sebagai pemimpin alternatif dari tatanan pasca-Perang Dunia II yang dipimpin Amerika Serikat (AS).

Kemungkinan kenaikan pemimpin berusia 69 tahun itu ke masa jabatan 5 tahun untuk ketiga kalinya, dan mungkin lebih, ditetapkan pada 2018 lalu saat ia menghilangkan batas dua masa jabatan untuk kepresidenan.

Baca juga: Xi Jinping Akhirnya Muncul ke Publik, Tepis Rumor Tahanan Rumah hingga Kudeta Militer

Selama satu dekade berkuasa, pemerintahan Xi telah melihat tindakan keras terhadap korupsi di dalam partai.

Meskipun pengamat mengatakan hal lain, lantaran pemerintahannya dianggap tidak hanya berfungsi untuk menjatuhkan saingan politik saja, namun juga serangkaian langkah untuk menghancurkan gerakan pro-demokrasi di Hong Kong, dan penguncian (lockdown) akibat virus corona (Covid-19) yang ketat di kota-kota untuk menekan angka penyebaran.

Xi juga menghadapi kritik keras tentang Hak Asasi Manusia (HAM) dari komunitas internasional atas kebijakan represifnya di wilayah barat laut Xinjiang yang telah menyaksikan sekitar satu juta warga Uighur dan minoritas Muslim lainnya ditahan dalam tindakan keras yang seolah-olah menargetkan 'terorisme'.

Menjelang pertemuan Partai Komunis China (PKC) sekali dalam 5 tahun pada 16 Oktober mendatang, di mana Xi secara luas diperkirakan akan mengamankan masa jabatan ketiganya sebagai pemimpin, pembersihan pejabat senior pun dilakukan.

Mantan Wakil Menteri Keamanan Publik Sun Lijun, mantan Menteri Kehakiman Fu Zhenghua, dan mantan Kepala Polisi Shanghai, Chongqing dan Shanxi telag ditangkap atas tuduhan korupsi.

Penahanan tersebut merupakan pembersihan politik terbesar China selama bertahun-tahun.

Pada hari Minggu lalu, media pemerintah negara itu mengumumkan daftar 2.300 delegasi komite pusat PKC.

Adanya nama Xi dalam daftar tersebut semakin membantah rumor yang berkembang di media sosial tentang kudeta militer di China.

© 2023 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas