Tribun

Konflik AS-China Memperparah Isu Rasisme Anti-Asia di Amerika Serikat

Kasus kebencian terjadap ras Asia atau anti-Asia bermula dari penyebutan corona (Covid-19) sebagai virus China.

Penulis: Fransiskus Adhiyuda Prasetia
Editor: Choirul Arifin
zoom-in Konflik AS-China Memperparah Isu Rasisme Anti-Asia di Amerika Serikat
dok.
Diskusi publik Senat Mahasiswa FISIP Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama) bertajuk "Mengapa Rasisme Masih Ada di Amerika Serikat?" di Jakarta, Selasa (4/10/2022).  

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Fransiskus Adhiyuda

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Senat Mahasiswa Fisip Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama) menyoroti fenomena rasisme anti-Asia yang di terjadi di Amerika Serikat.

Apalagi, laporan terbaru dari China Society for Human Rights Studies (CSHRS) 2022 menyebut bahwa kasus Anti-Asia bermula dari penyebutan corona (Covid-19) sebagai virus China.

Penyebutan tersebut dilakukan oleh beberapa politisi Amerika Serikat, termasuk Presiden Donald Trump saat itu. 

Stigma tersebut diperparah oleh superioritas warga kulit putih Amerika Serikat atas keturunan Asia yang merupakan kaum minoritas teladan (model minority) di Amerika. 

Hal itu disampaikan Ketua Umum Senma FISIP UPDM(B) Dimas Satria Krisnowo dalam diskusi publik dengan tajuk, Mengapa Rasisme Masih Ada di Amerika Serikat?, Selasa (4/10/2022). 

"Ditambah lagi, rivalitas, ketegangan, dan konflik antar kedua negara, Amerika Serikat dan China yang semakin memperparah rasisme Anti-Asia di Amerika Serikat," kata Dimas.

Dimas menambahkan, pihaknya mendiskusikan fenomena Asia Hate atau Anti-Asia yang notabene terjadi dan ada di negara yang mengklaim dirinya sebagai pelopor, penyebar, bahkan menegakkan nilai-nilai HAM dan demokrasi di negara-negara lain.

Baca juga: Setelah Laut China Selatan, Sungai Mekong Diprediksi Jadi Arena Baru dalam Konflik AS-China

"Kita berharap dari diskusi ini bisa mengambil manfaat, bahwa Indonesia yang majemuk, mampu menyatukan perbedaan, bukan menghembuskan permusuhan," terangnya.

Sedangkan, Program Studi Hubungan Internasional FISIP UPDM(B) Kesi Yovana menambahkan, adanya fenomena dan kasus hate-crime, Anti-Asia di Amerika Serikat tidak lepas dari kampanye Trump yang menyudutkan China. 

Apalagi saat pandemi Covid-19, ujaran kebencian seperti virus China, Kung Flu, dan Wuhan virus semakin membangkitkan kebencian Anti-Asia di Amerika. 

Baca juga: Joe Biden Undang BTS ke Gedung Putih, Bahas Masalah Kebencian Anti-Asia

"Belum lagi, meningkatnya eskalasi konflik dan ketegangan hubungan antara Amerika Serikat dan China semakin mempengaruhi masyarakat untuk melepaskan kebencian pada sesama manusia," ucapnya.

Sedangkan, Anggota Dewan Redaksi Media Group Abdul Kohar menyebut, menguatnya sentimen rasisme Anti-Asia di Amerika Serikat menunjukkan kemunduran sekaligus menjauh dari American Dream yang memimpikan kesetaraan, menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan, dan anti rasisme.

Bendahara Umum PP GP Ansor Addin Jauharudin mengatakan, rasialisme merupakan salah satu isu tertua di dunia. Menurutnya, isu Anti-Asia di Amerika Serikat harusnya menjadi bahan refleksi bagi Bangsa Indonesia. 

Baca juga: Sekjen PBB Prihatin Meningkatnya Kekerasan Anti-Asia

"Amerika Serikat dan Indonesia sama-sama menganut demokrasi, namun memiliki karakter dan corak yang berbeda. Demokrasi Indonesia berlandaskan pada prinsip musyawarah-mufakat dalam politik dan gotong royong dalam ekonomi. Sehingga sudah selayaknya dan sepatutnya Amerika Serikat belajar dari Indonesia untuk menghargai perbedaan, menyatukan kemajemukan, dan menjunjung tinggi kemanusiaan," ujarnya.

© 2022 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas