Volltexte
Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●
Deutsche Welle

Kenapa Suhu di Eropa Semakin Panas?

Eropa rutin dilanda gelombang panas ekstrem yang memecahkan rekor suhu tertinggi dan merenggut korban jiwa. Mengapa suhu rata-rata…

Tayang:
Baca & Ambil Poin
zoom-in Kenapa Suhu di Eropa Semakin Panas?
Deutsche Welle
Kenapa Suhu di Eropa Semakin Panas? 

Pada musim semi ini, gelombang panas sudah melanda Inggris, Irlandia, Jerman, Prancis, Spanyol, hingga Italia dengan ketinggian suhu yang tidak pernah terjadi sebelumnya.

Cuaca musim semi yang tidak lazim ini dipicu fenomena "kubah panas". Sebutan bagi sistem atmosfer bertekanan tinggi yang bergerak dari Afrika Utara dan mengakibatkan udara panas di atas Eropa.

Layanan Perubahan Iklim Copernicus milik Uni Eropa menyatakan bahwa cuaca panas makin sering terjadi di Eropa dalam 25 tahun terakhir, sehingga memicu gelombang panas yang lebih sering dan ekstrem.

"Dulu, suhu pada skala tersebut adalah hal yang tidak biasa, bahkan di puncak musim panas sekalipun," kata Friederike Otto, profesor ilmu iklim di Imperial College London sebagaimana dikutip dalam sebuah pernyataan. "Rekor panas ini jelas menunjukkan jejak nyata perubahan iklim," lanjut Friederike.

Eropa memanas dua kali lipat lebih cepat

Memang masih terlalu dini untuk menyimpulkan apakah bahan bakar fosil jadi penyebab utama gelombang panas ekstrem yang semakin parah. Namun, analisis para ilmuwan dari World Weather Attribution menunjukkan bahwa cuaca ekstrem, “menjadi lebih intens akibat perubahan iklim yang dipicu oleh aktivitas manusia.”

Laporan European State of the Climate yang dirilis pada April lalu mencatat bahwa setidaknya 95% wilayah Eropa telah mengalami suhu tahunan di atas rata-rata sepanjang 2025. Suhu gelombang panas ada di atas 30 derajat Celsius dan terasa hingga Lingkar Arktik. Suhu permukaan laut pun tercatat sebagai "yang tertinggi dalam sejarah."

"Eropa adalah benua dengan pemanasan tercepat dan dampaknya sudah sangat parah," kata Florian Pappenberger, kepala Pusat Prakiraan Cuaca Jangka Menengah Eropa (ECMWF), salah satu lembaga yang membuat laporan tersebut.

Eropa memanas dua kali lebih cepat dibanding benua lainnya. Suhu rata-rata di Eropa melonjak 2,5 derajat. Sementara rata-rata kenaikan suhu di benua lain sebesar 1,4 derajat Celsius.

Mengapa begitu cepat memanas?

Rekomendasi Untuk Anda

Salah satu penyebab pemanasan yang lebih cepat di Eropa adalah letak geografis yang langsung terhubung dengan kawasan Arktik. Kawasan yang mengalami laju pemanasan jauh lebih cepat.

Menurut data Layanan Perubahan Iklim Copernicus Uni Eropa, kenaikan suhu rata-rata di sekitar Kutub Utara sudah melampaui 3,3 derajat Celsius. Penyebabnya adalah tutupan es di Samudra Arktik yang kian mencair sehingga tak ada lagi pelindung dari panas matahari.

Kondisi yang dikenal sebagai efek albedo tersebut terjadi di seluruh Eropa. Daerah yang tadinya tertutup es seperti dataran tinggi di Pegunungan Alpen, semakin kehilangan tutupan salju. Akibatnya, permukaan tanah yang lebih gelap memantulkan lebih sedikit radiasi matahari kembali ke luar angkasa sehingga laju pemanasan pun berlipat ganda.

Pergerakan angin yang tidak menentu turut memengaruhi cuaca

Para ilmuwan juga mengaitkan pemanasan di Eropa dengan pergeseran angin jet stream yakni aliran angin di daerah tinggi yang berembus menuju Eropa dari arah barat. Angin yang tadinya relatif stabil kiniterganggu oleh perubahan iklim. Akhirnya memicu pola cuaca ekstrem yang cenderung bertahan lebih lama.

Indikasi pola cuaca ekstrem di Eropa terlihat sejak 2022. Saat itu, Efi Rousi, yang menjabat sebagai peneliti pascadoktoral di Institut Penelitian Dampak Iklim Potsdam di Jerman, melakukan riset tentang jet stream yang telah menyebabkan lebih banyak gelombang panas di Eropa bagian barat.

"Wilayah ini bertepatan dengan titik keluar jalur badai dari Atlantik Utara menuju Eropa. Sistem cuaca biasanya berasal dari Atlantik sehingga memberikan efek mendinginkan," kata Efi dalam sebuah pernyataan. "Namun, selama kondisi arus jet yang bercabang terjadi, sistem cuaca tersebut teralihkan ke arah utara dan gelombang panas yang persisten dapat berkembang di atas Eropa Barat."

Udara yang bersih menghangatkan bumi

Paradoksnya, upaya untuk mengatasi masalah lingkungan justru berkontribusi terhadap peningkatan suhu di Eropa. Laporan Keadaan Iklim Eropa 2025 menunjukkan bahwa regulasi kualitas udara yang lebih ketat sejak dekade 1980-an memang berhasil mengurangi polusi udara, namun kini regulasi tersebut turut jadi penyebab atas suhu yanglebih panas.

Sebelum aturan udara bersih diberlakukan, partikel sulfat dan nitrat reflektif berukuran mikro yang berasal dari knalpot kendaraan dan cerobong asap pabrik, secara tidak langsung membantu mendinginkan suhu dengan cara memantulkan sinar matahari. Proses ini "mengompensasi sebagian dari pemanasan yang disebabkan oleh peningkatan gas rumah kaca.”

Sumber: Deutsche Welle
Halaman 1/2
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Populer
Atas