Tribun

Geram dengan Sikap Kim Jong Un, Amerika Siapkan Sanksi Lebih Banyak ke Korea Utara

Pemerintah AS bersama PBB beberapa kali turut menjatuhkan sanksi dengan memblokir sejumlah akses pada Korea Utara.

Penulis: Namira Yunia Lestanti
Editor: Seno Tri Sulistiyono
zoom-in Geram dengan Sikap Kim Jong Un, Amerika Siapkan Sanksi Lebih Banyak ke Korea Utara
STR/KCNA VIA KNS/AFP
Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un (kanan) berjalan dengan putrinya saat dia memeriksa rudal balistik antarbenua (ICBM) baru ) "Hwasong Gun 17". Penasihat Keamanan Nasional AS Jake Sullivan mengungkap rencana negaranya yang akan meningkatkan sanksi pada Korea Utara, langkah ini diambil sebagai bentuk gertakan bagi Kim Jong Un yang belakangan gencar melakukan uji coba nuklir. 

Laporan Wartawan Tribunnews.com Namira Yunia Lestanti

TRIBUNNEWS.COM, WASHINGTON – Penasihat Keamanan Nasional Amerika Serikat Jake Sullivan mengungkap rencana negaranya yang akan meningkatkan sanksi pada Korea Utara, langkah ini diambil sebagai bentuk gertakan bagi Kim Jong Un yang belakangan gencar melakukan uji coba nuklir.

“Kami memiliki serangkaian tindakan sanksi baru yang akan datang,” kata Sullivan dalam sebuah konferensi pada Kamis (1/12/2022).

Sullivan tak mengungkap sanksi apa saja yang akan dijatuhkan Washington pada Pyongyang, namun sejauh ini AS mulai meluncurkan sejumlah senjata utama seperti kapal induk dan pembom jarak jauh. Ancaman ini dilontarkan untuk menekan Kim Jong Un agar mau menyerahkan persenjataan nuklirnya.

Baca juga: Korea Utara Berencana Bangun Kekuatan Nuklir Paling Kuat di Dunia

Sebelum AS melontarkan ancaman ini, pemerintah Biden beserta para mitranya Amerika Serikat, Korea Selatan, dan Jepang telah lebih dulu menyerukan upaya negosiasi denuklirisasi di semenanjung Korea pada pimpinan Pyongyang.

Namun sayangnya upaya tersebut tak dihiraukan oleh Kim Jong Un, alasan tersebut yang membuat AS harus mengeluarkan ancaman untuk menekan Korut.

“Pyongyang menolak upaya yang tulus ini,” kata Sullivan.

Menanggapi gertakan dari Amerika dan para sekutunya, Korea Utara mengatakan bahwa pihaknya tidak akan melakukan denuklirisasi. Meski Amerika tidak memiliki niat buruk terhadap Korea Utara dan terbuka untuk pembicaraan tanpa prasyarat.

Namun hal tersebut tak lantas membuat Korut percaya, presiden Kim Jong Un menganggap bahwa Amerika Serikat dan sekutunya secara diam – diam telah menyusun kebijakan bermusuhan.

Hal itu yang kemudian mendorong Korut untuk memperluas militernya dengan meningkatkan penggunaan senjata nuklir, seperti yang dilansir Reuters.

Sebagai informasi, sebelum Washington menjatuhkan lebih banyak sanksi pada Pyongyang pada Oktober lalu pemerintah otoritas Joe Biden diketahui telah menargetkan dua perusahaan yang terdaftar di Singapura dan sebuah perusahaan yang terdaftar di Kepulauan Marshall. Menurut Washington keduanya secara aktif mendukung program senjata militer Pyongyang.

Tak hanya itu Pemerintah AS bersama PBB beberapa kali turut menjatuhkan sanksi dengan memblokir sejumlah akses pada Korut, namun sayangnya cara tersebut belum mampu menghentikan aktivitas uji coba nuklir Korea Utara.

Rencana pemerintah AS akan terus menggelar pembicaraan untuk menghindari peningkatan bahaya kemanusiaan di kawasan Asia.

© 2023 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas