WHO Ungkap 190 Serangan ke Sektor Kesehatan Lebanon, 128 Nakes Tewas
WHO mencatat 190 serangan terhadap fasilitas kesehatan di Lebanon dalam tiga bulan, menewaskan 128 tenaga medis
Editor:
Eko Sutriyanto
Ringkasan Berita:
- World Health Organization memverifikasi sedikitnya 190 serangan terhadap fasilitas kesehatan dan tenaga medis di Lebanon dalam tiga bulan terakhir
- Serangan tersebut menewaskan 128 tenaga kesehatan, melukai 332 lainnya, serta menyebabkan sejumlah rumah sakit dan pusat layanan kesehatan terpaksa ditutup
- WHO memperingatkan krisis kemanusiaan dan kesehatan di Lebanon terus memburuk seiring meningkatnya korban, pengungsian, dan kerusakan infrastruktur medis
TRIBUNNEWS.COM, JENEWA - Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengungkapkan situasi kemanusiaan yang semakin mengkhawatirkan di Lebanon setelah memverifikasi sedikitnya 190 serangan terhadap fasilitas kesehatan dan tenaga medis dalam kurun tiga bulan terakhir.
Serangan yang terjadi di tengah meningkatnya konflik bersenjata itu tidak hanya menimbulkan korban jiwa, tetapi juga memperburuk akses masyarakat terhadap layanan kesehatan yang sangat dibutuhkan.
Perwakilan WHO untuk Lebanon, Abdinasir Abubakar, mengatakan lebih dari 3.400 orang tewas dan hampir 10.400 lainnya mengalami luka-luka sejak eskalasi terbaru operasi militer Israel dimulai pada Maret 2026.
Menurutnya, periode tersebut menjadi salah satu fase paling mematikan yang dialami Lebanon sejak konflik berkecamuk pada Oktober 2023.
“Ini merupakan salah satu bulan paling mematikan bagi Lebanon sejak awal konflik. Dampaknya tidak hanya terlihat dari jumlah korban jiwa, tetapi juga dari kerusakan sistem layanan publik, khususnya sektor kesehatan,” kata Abubakar dalam konferensi pers di Jenewa, Selasa (2/6/2026).
WHO mencatat bahwa dari 190 serangan yang telah diverifikasi, sedikitnya 128 tenaga kesehatan tewas dan 332 lainnya terluka.
Baca juga: 20 Persen Pelajar Konsumsi Tembakau, WHO Desak Putus Siklusnya di Anak Muda
Korban mencakup dokter, perawat, petugas ambulans, hingga staf pendukung yang bekerja di fasilitas kesehatan.
Menurut Abubakar, serangan terhadap sektor kesehatan memiliki dampak berlapis.
Selain mengakibatkan kematian dan cedera, serangan tersebut juga menghambat masyarakat untuk memperoleh layanan medis saat kebutuhan terhadap perawatan justru meningkat akibat konflik.
“Serangan-serangan ini tidak hanya membunuh dan melukai, tetapi juga membuat masyarakat kehilangan akses terhadap layanan kesehatan ketika mereka paling membutuhkannya,” ujarnya.
Puluhan Fasilitas Kesehatan Rusak dan Ditutup
Kerusakan yang dialami infrastruktur kesehatan Lebanon disebut semakin memperparah kondisi di lapangan.
WHO melaporkan sedikitnya 17 rumah sakit mengalami kerusakan sebagian akibat serangan yang terjadi dalam beberapa bulan terakhir.
Selain itu, tiga rumah sakit dan 42 pusat layanan kesehatan primer masih terpaksa menghentikan operasionalnya karena alasan keamanan maupun kerusakan fasilitas.
Penutupan tersebut berdampak pada ribuan warga yang bergantung pada layanan kesehatan dasar, termasuk ibu hamil, anak-anak, lansia, dan pasien penyakit kronis.