WHO Ungkap 190 Serangan ke Sektor Kesehatan Lebanon, 128 Nakes Tewas
WHO mencatat 190 serangan terhadap fasilitas kesehatan di Lebanon dalam tiga bulan, menewaskan 128 tenaga medis
Editor:
Eko Sutriyanto
Di banyak wilayah yang terdampak konflik, fasilitas kesehatan yang masih beroperasi harus menangani lonjakan pasien dengan sumber daya yang terbatas. Keterbatasan obat-obatan, tenaga medis, bahan bakar, serta peralatan kesehatan menjadi tantangan tambahan yang memperberat beban sistem kesehatan Lebanon.
Serangan terhadap Rumah Sakit Jabal Amel
WHO juga menyoroti insiden terbaru yang menimpa Rumah Sakit Jabal Amel pada Senin (1/6/2026).
Meski masih dalam proses verifikasi, informasi awal dari Kementerian Kesehatan Lebanon menunjukkan bahwa sedikitnya 86 orang mengalami luka-luka dalam serangan tersebut, termasuk tenaga kesehatan yang sedang bertugas.
Laporan awal menyebutkan sejumlah bagian penting rumah sakit mengalami kerusakan, termasuk instalasi gawat darurat dan unit perawatan intensif (ICU). Kerusakan pada fasilitas-fasilitas vital tersebut berpotensi mengganggu penanganan pasien dalam kondisi kritis.
Insiden itu kembali memunculkan kekhawatiran komunitas internasional mengenai keselamatan tenaga medis dan perlindungan fasilitas kesehatan di wilayah konflik. Berdasarkan hukum humaniter internasional, rumah sakit, ambulans, serta tenaga kesehatan seharusnya mendapatkan perlindungan khusus dan tidak menjadi sasaran serangan.
Baca juga: Wali Kota di Lebanon Selatan Ditembak Mati: Bukan Serangan Israel
Krisis Pengungsian Memburuk
Di saat yang sama, konflik yang terus berlanjut telah memicu gelombang pengungsian baru. WHO memperkirakan sekitar 130.000 orang saat ini tinggal di tempat-tempat penampungan setelah meninggalkan rumah mereka akibat pertempuran.
Jumlah tersebut diperkirakan masih dapat bertambah menyusul perintah evakuasi terbaru yang dikeluarkan Israel untuk sejumlah kawasan di pinggiran selatan Beirut. Perpindahan penduduk dalam jumlah besar berisiko meningkatkan kebutuhan layanan kesehatan, sanitasi, air bersih, dan bantuan kemanusiaan lainnya.
Kepadatan di tempat-tempat pengungsian juga meningkatkan risiko penyebaran penyakit menular, terutama di tengah keterbatasan fasilitas kesehatan yang tersedia.
Menghadapi situasi yang semakin memburuk, WHO mendesak semua pihak yang terlibat dalam konflik untuk menghentikan serangan terhadap fasilitas kesehatan dan memastikan perlindungan bagi tenaga medis yang bekerja di garis depan.
“Kami membutuhkan penghentian serangan dan perlindungan aktif terhadap layanan kesehatan,” tegas Abubakar.
Selain itu, WHO menyerukan dukungan pendanaan yang berkelanjutan bagi sektor kesehatan Lebanon, akses kemanusiaan yang aman dan tanpa hambatan, serta upaya diplomatik untuk mewujudkan gencatan senjata yang permanen.
Menurut WHO, tanpa langkah-langkah tersebut, sistem kesehatan Lebanon berisiko menghadapi tekanan yang lebih berat, sementara kebutuhan masyarakat terhadap layanan medis terus meningkat seiring berlanjutnya konflik dan krisis kemanusiaan yang melanda negara tersebut. (Anadolu)