Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Satu Aplikasi Jutaan
Cerita
Indonesia
DOWNLOAD NOW!
Tribun
LIVE ●

Sebelum Dipecat, Menhan Israel Minta Perombakan Yudisial Harus Dihentikan

Minta pemerintah Israel hentikan reformasi peradilan kontroversial yang memicu protes besar-besaran di seluruh negeri, Menhan Yoav Gallant dipecat.

zoom-in Sebelum Dipecat, Menhan Israel Minta Perombakan Yudisial Harus Dihentikan
AFP/JACK GUEZ
Pelajar Israel memegang poster selama demonstrasi menentang pemerintahan baru sayap kanan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu, di kampus Universitas Tel Aviv, pada 16 Januari 2023. Menteri Pertahanan (Menhan) Israel Yoav Gallant telah meminta pemerintah Perdana Menteri (PM) Benjamin Netanyahu untuk menghentikan reformasi peradilan kontroversial yang telah memicu protes besar-besaran di seluruh negeri. Permintaan ini jelas saja membuatnya dipecat dari pemerintahan Netanyahu.(Photo by JACK GUEZ / AFP) 

TRIBUNNEWS.COM, TEL AVIV - Menteri Pertahanan (Menhan) Israel Yoav Gallant telah meminta pemerintah Perdana Menteri (PM) Benjamin Netanyahu untuk menghentikan reformasi peradilan kontroversial yang telah memicu protes besar-besaran di seluruh negeri.

Permintaan ini jelas saja membuatnya dipecat dari pemerintahan Netanyahu.

Dikutip dari laman Sputnik News, Senin (27/3/2023), aksi protes menentang Rancangan Undang-undang (RUU) Reformasi ini telah digelar di Israel selama 12 minggu berturut-turut.

Menurut Netanyahu, pemerintah Israel berencana untuk meloloskan bagian penting dari UU yang diusulkan minggu depan.

"Demi keamanan Israel, demi putra dan putri kita, proses legislatif harus dihentikan, untuk memungkinkan bangsa Israel merayakan Paskah dan Hari Kemerdekaan bersama, dan berkabung bersama pada Hari Peringatan Holocaust," kata Gallant pada Sabtu lalu.

Baca juga: PM Netanyahu Pecat Menhan Gallant Setelah Minta Reformasi Peradilan Dihentikan

Ia menjadi Menteri Utama Israel pertama yang menyerukan penghentian reformasi.

Gallant menekankan bahwa ada keretakan yang tumbuh dalam masyarakat Israel yang juga menembus Pasukan Pertahanan Israel (IDF) dan badan keamanan negara setelah munculnya kebijakan Netanyahu ini.

"Ini menimbulkan ancaman yang jelas, langsung dan nyata terhadap keamanan negara. Saya tidak akan membiarkan ini," tegas Gallant, menyerukan dialog inklusif tentang masalah tersebut.

Sementara itu, Menteri Keamanan Nasional Israel Ben Gvir mendesak Netanyahu untuk memecat Gallant pada Sabtu lalu.

"Saya meminta Perdana Menteri untuk memecat Gallant, yang datang dengan suara kanan tetapi menyerah pada tekanan orang-orang yang mengancam akan menolak (bertugas di militer) dan mencoba menghentikan reformasi penting ini," kata Ben Gvir dalam pernyataannya.

Mahasiswa Israel memprotes pemerintahan baru sayap kanan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu, di kampus Universitas Tel Aviv, pada 16 Januari 2023. (Photo by JACK GUEZ / AFP)
Mahasiswa Israel memprotes pemerintahan baru sayap kanan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu, di kampus Universitas Tel Aviv, pada 16 Januari 2023. (Photo by JACK GUEZ / AFP) (AFP/JACK GUEZ)

Sekitar 630.000 warga Israel berpartisipasi dalam aksi protes nasional lainnya yang menentang RUU reformasi peradilan yang kontroversial pada Sabtu lalu.

Polisi bahkan menggunakan meriam air untuk melawan para pengunjuk rasa di Tel Aviv.

Setidaknya 28 pengunjuk rasa ditahan saat memblokir Jalan Raya Ayalon di Tel Aviv.

Pada Januari lalu, Menteri Kehakiman Israel Yariv Levin meluncurkan paket reformasi hukum yang akan membatasi kewenangan Mahkamah Agung (MA) dengan memberikan kontrol kabinet atas pemilihan Hakim baru.

Paket ini juga memungkinkan Knesset untuk mengesampingkan keputusan pengadilan dengan mayoritas mutlak.

Halaman 1/2
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di
Atas