Kisah Kasih Gen Z dengan Anabul Kucing Kesayangan
Dari menunggu kucing kawin dini hari, hingga ke telat sekolah karena menemani kucing melahirkan. Kisah kasih Gen Z dengan anabul kesayangan…
Hewan peliharaan juga berpengaruh terhadap kesehatan fisik dan kesehatan mental, karena penelitian sebelumnya menunjukkan kontribusinya untuk memodulasi penyakit mental, mengurangi masalah kardiovaskular, meningkatkan hasil dari banyak penyakit mental seperti depresi, dan menjadi terapi yang bermanfaat bagi pasien Parkinson.
Rasa sayang membuat ketiga pecinta kucing ini rela melakukan apapun demi kucing-kucing mereka.
Endro sendiri mengaku kalau dia rela melakukan banyak hal buat 'anak-anaknya'. Bahkan dia menyebut dirinya sebagai bucin alias budak cinta buat keempat anaknya.
Mungkin dia bukan tipe orang suka memakaikan aneka baju dan untuk kucingnya. Kata dia, itu hal yang aneh. Namun, Endro lebih berfokus pada kesehatan fisik dan mental 'anak-anaknya'.
"Rutinitas kalau pulang ke rumah itu, pasti harus ngajak main mereka. Kaya misalnya si abang, dia itu suka banget main kejar-kejaran. Jadi saya godain dulu sampai bersemangat lalu saya tinggal. Dia bakal ngejar tuh, lalu gitu aja seterusnya sampai capek. Tapi saya sih capek duluan dibanding dia. Tapi demi dia bahagia nggak apa-apa."
Meski demikian dia mengaku kalau pernah impulsif membeli berbagai mainan untuk kucingnya. Dia menyebut pernah membeli mainan gantung, tali, bola yang bisa berputar sendiri, sampai tikus robot. Namun, semuanya tak terpakai lantaran kucing lebih memilih kantong plastik, tali, dan tas.
Telat sekolah demi temani kucing melahirkan
Meski harus ditinggal bekerja, Endro memastikan kucing-kucingnya ini bahagia. Dia bahkan rela menjaga kucingnya saat tidur bahkan sampai menyuapi kucingnya agar mau makan.
Tak cuma itu, dia juga pernah beberapa kali harus terlambat kerja dan janjian dengan temannya.
"Waktu mau pergi, tiba-tiba mereka semua antar sampai tangga. Nah di situ mulailah pada kasih muka-muka memelas menggemaskan gitu. Karena iman saya nggak kuat jadilah lemah dan ajak mereka main dulu. Pas mereka capek dan tidur baru saya mengendap-edap pergi deh."
'Masalah' dengan anak bulu alias anabul ini juga dirasakan oleh Diah. Dia juga merasakan bagaimana sulitnya menolak pesona menggemaskan mereka atau sulitnya meninggalkan mereka saat anabul sakit.
Diah bahkan pernah rela minta izin untuk telat meeting offline lantaran kucingnya mati. Dia tak bisa meninggalkannya begitu saja. Tak cuma itu, saat masih sekolah dia pun pernah telat masuk sekolah gara-gara kucing.
"Saya pernah sangat telat masuk sekolah, masuk di jam setelah istirahat, waktu kelas 2 SMP. Paginya kucing melahirkan, dia minta ditungguin, waktu sudah rapi mau sekolah, ngikutin keluar kardus, anaknya lahir dan tali pusarnya belum putus. Tiap mau pergi kucingnya ngikutin akhirnya saya nungguin dia lahiran dulu, dari lahir satu sampai keluar 4 ekor," kata Diah.
Sementara Indah pernah rela bangun di pagi buta untuk menemani kucingnya yang tengah berahi untuk kawin di pagi-pagi buta.
"Kasihan banget kucingku, waktu itu dia lagi berahi-berahinya jadi berisik. Tiba-tiba di jam 3 subuh, dia lihat ke jendela terus ternyata ada kucing kampung. Ngeong-ngeong terus, ngeliatnya kasihan," katanya.
"Saya sih maunya dia nggak kawin sama kucing kampung, tapi mau sama yang ras, tapi karena kasian ya udah deh nggak apa-apa. Saya keluarin dia, lalu saya tunggui dia kawin. Pas udah selesai saya masukin lagi ke rumah," ujarnya sambil tertawa.
(ae)
