Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●

Penyelesaian Konflik Myanmar, Jokowi: Kompleks dan Perlu Waktu

Presiden yakin konflik di Myanmar dapat selesai. Hal itu apabila semua stakeholders di Myanmar terlibat dan mau menyelesaikannya.

Tayang:
Baca & Ambil Poin
zoom-in Penyelesaian Konflik Myanmar, Jokowi: Kompleks dan Perlu Waktu
Karenni Nationalities Defense Force - KNDF - BO8
Kondisi kompleks biara Buddha, desa Nam Nein, Negara Bagian Shan, Myanmar, setelah penembakan massal pada Sabtu (11/3/2023). 

Laporan Wartawan Tribunnews Taufik Ismail

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Presiden Joko Widodo (Jokowi) berharap konflik di Myanmar segera selesai karena menyangkut kemanusiaan. Hal itu disampaikan Jokowi usai menghadiri peringatan HUT ke-56 ASEAN atau ASEAN Day di Sekretariat ASEAN, Jalan Sisimangaraja, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Selasa, (8/8/2023).

"Ya kita berharap persoalan di Myanmar ini segera selesai karena menyangkut kemanusiaan, menyangkut rakyat Myanmar," kata Jokowi.

Menurut Presiden penyelesaian konflik Myanmar tidaklah mudah. Permasalahan yang terjadi sangatlah kompleks sehingga perlu waktu dalam penyelesaiannya.

"Pada kenyataannya tak gampang, sangat kompleks, sudah, konfliknya sudah bukan soal 1 dengan 2 tapi dengan 3, dengan 4, dengan 5 sehingga memerlukan waktu," katanya.

Meskipun demikian Presiden yakin konflik di Myanmar dapat selesai. Hal itu apabila semua stakeholders di Myanmar terlibat dan mau menyelesaikannya.

"Itu bisa terjadi kalau semua stakeholders yang ada di Myanmar mau, memiliki kemauan yang sama untuk seelsaikan masalah ini, kalau tidak, memang sangat sulit," pungkasnya.

Rekomendasi Untuk Anda

Untuk diketahui konflik di Myanmar hingga kini belum usia setelah junta militer menggulingkan pemerintahan yang sah pada Februari 2021 lalu.

Pihak militer Myanmar mengambil alih pemerintahan dan menjebloskan lawan-lawannya termasuk pemimpin National League for Democracy yang Juga Penasihat Negara Aung San Suu Kyi dan Presiden Win Myin, dengan dalih kecurangan dalam Pemilu.

Usai aksi kudeta tersebut, timbul gelombang protes. Pihak Militer Myanmar meresponnya dengan tindakan represif. Hampir 3 ribu orang tewas usai kudeta tersebut. Selain itu lebih dari 1 juta orang mengungsi.

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di
Berita Populer
Atas