Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Satu Aplikasi Jutaan
Cerita
Indonesia
DOWNLOAD NOW!
Tribun
LIVE ●
BBC

Mengapa dan sejak kapan pria beragama Kristen tidak wajib disunat?

Praktik sunat telah dikaitkan dengan ritual agama selama ribuan tahun. Namun, mengapa banyak pria Kristen tidak bersunat, padahal…

Tribun X Baca tanpa iklan
zoom-in Mengapa dan sejak kapan pria beragama Kristen tidak wajib disunat?
BBC Indonesia
Mengapa dan sejak kapan pria beragama Kristen tidak wajib disunat? 

Al Salem menjelaskan bahwa banyak budaya yang menjadikan sunat sebagai ritual karena berbagai alasan, mulai dari kebersihan, ritual peralihan anak-anak menuju masa dewasa, upacara persembahan kepada para dewa, atau sebagai tanda identitas budaya.

"Agama mengatur segalanya, mulai dari praktik kebersihan dari makanan, seks, sampai politik. Sistem keagamaan lahir bersama budaya sebagaimana beragam hal lainnya," jelas Pastorino.

"Pada zaman kuno sulit memisahkan keduanya. Ketika harus membuat aturan praktik kebersihan, orang-orang zaman tersebut mengaturnya secara agama. Karena hukum adalah hukum Tuhan, tidak ada yang lain," ujarnya kemudian.

Pada zaman dahulu, bangsa Sumeria dan Semit juga menyunat laki-laki.

Bahkan, peradaban Maya dan Aztec juga mempraktikkan ritual sunat, menurut sebuah laporan yang diterbitkan pada tahun 2007 oleh UNAIDS.

Meski tersebar luas, sunat tidak diterima secara universal.

Bagi masyarakat Yunani kuno, yang suka berolahraga dan memuja ketelanjangan laki-laki, kulup adalah simbol keindahan dan sunat tidak disukai.

Rekomendasi Untuk Anda

"Preferensi estetika terhadap kulup yang lebih panjang dan meruncing merupakan cerminan etos yang melibatkan identitas budaya, moralitas, kesopanan, kebajikan, keindahan, dan kesehatan," tulis Frederick M. Hodges dalam artikel Bulletin of History of Medicine terbitan 2001 dari Asosiasi Sejarah Kedokteran Amerika dan Institut Sejarah Kedokteran Johns Hopkins.

Kulup yang tidak disunat tetapi pendek dan tidak menutupi seluruh kepala penis, dianggap tidak sempurna.

"Di kalangan penduduk Yahudi, kesulitan mempertahankan praktik sunat menjadi masalah khusus pada periode Yunani karena pengaruh budaya Helenistik terhadap orang Yahudi yang ingin berasimilasi dengan budaya dominan," jelas Cynthia Long Westfall, profesor Alkitab Perjanjian Baru di McMaster Divinity College di Kanada, dalam bukunya yang bertajuk Paul and Gender.

"Selain itu, ada masa ketika sunat merupakan hal yang ilegal: Antiochus Epiphanes telah memerintahkan penduduk Yudea untuk tidak menyunat anak laki-laki mereka lagi. Akibatnya, beberapa pria Yahudi berusaha menyembunyikan bahwa mereka sudah bersunat," tambahnya.

Perselisihan antara Paulus dan Petrus

Berbeda dengan Yudaisme, yang tidak berusaha membuat khalayak luar memeluk agamanya, Yesus meminta murid-muridnya untuk menyebarkan ajarannya ke mana pun, sebanyak mungkin.

Paulus dari Tarsus, yang mungkin tiba di Yerusalem pada masa remaja atau awal masa dewasa dan menjalani masa kecilnya dikelilingi oleh orang-orang Yunani, adalah penyebar utama ajaran Yesus setelah penyaliban Yesus.

Dia melintasi wilayah yang sekarang disebut Israel, Lebanon, Suriah, Turki, Yunani, dan Mesir guna menyebarkan ajaran Yesus, terutama di antara orang-orang non-Yahudi.

Sumber: BBC Indonesia
Halaman 2/4
BBC
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di
Berita Populer
Atas