Cara baru mendeteksi kanker payudara sejak dini
Seorang ilmuwan Turki telah mengembangkan perangkat baru yang dapat meningkatkan deteksi tumor payudara bagi pasien berisiko tinggi.
“Payudara setiap orang berbeda-beda, dan variasi jumlah jaringan kelenjar serta jaringan lemak juga unik,” kata Helen Yule, konsultan radiografer yang mengetuai badan penasihat profesi tersebut di Inggris.
Perempuan yang memiliki lebih banyak jaringan kelenjar mungkin merasa lebih tidak nyaman saat melakukan mammogram dibandingkan mereka yang memiliki payudara penuh lemak. Sensitivitas payudara juga bisa disebabkan terapi penggantian hormon (HRT).
Konsultan radiografer mengatakan ekspektasi perempuan terhadap mammogram juga berperan.
Ada beberapa cara sederhana untuk mencegah ketidaknyamanan selama mammogram, seperti menghindari prosedur itu seminggu sebelum atau selama menstruasi serta mengonsumsi parasetamol sebelumnya.
Untuk siapa perangkat ini?
Sejumlah studi menunjukkan bahwa tumor payudara yang berkembang di antara pemeriksaan mammogram rutin, yang dikenal sebagai kanker interval, mencakup 20-30% dari seluruh kasus kanker payudara.
Tim MIT mengatakan tumor ini cenderung lebih agresif dibandingkan yang ditemukan saat pemeriksaan rutin.
Perangkat ini dapat digunakan untuk perempuan yang berisiko tinggi terkena kanker payudara dan membantu mereka mendeteksi tumor di antara dua mammogram atau pemeriksaan mandiri.
Namun para peneliti memperingatkan bahwa "jika ada kelainan yang terdeteksi, mammogram tetap diperlukan".
Di mana itu dikembangkan?
Tim di MIT yang mengerjakan perangkat kesehatan yang dapat dipakai ini menghabiskan enam setengah tahun untuk mengembangkannya. Mereka menerima paten AS pada bulan Agustus dan lebih banyak uji coba pada manusia sedang dilakukan.
Satu perangkat berharga sekitar Rp15,7 juta (US$1.000) tetapi para peneliti mengatakan harga ini akan turun karena mereka memproduksinya dalam jumlah yang lebih besar. Jangka waktu alatnya adalah sekitar empat hingga lima tahun.
Satu pemindaian akan berarti “kurang dari secangkir kopi jika Anda memindai jaringan Anda setiap hari”, perkiraan tim peneliti.
Harapan bagi perempuan
Studi menunjukkan bahwa diagnosis yang terlambat, dan layanan kesehatan yang tidak memadai, adalah alasan utama di balik tingginya angka kematian akibat kanker payudara di negara-negara berkembang.
Menurut data WHO, tingkat kelangsungan hidup lima tahun akibat kanker payudara di negara-negara berpenghasilan tinggi melebihi 90%, dibandingkan dengan 66% di India dan 40% di Afrika Selatan.
Perangkat tersebut berpotensi digunakan untuk memindai bagian tubuh lain, seperti yang digunakan Dagdeviren untuk memindai bayinya saat dia hamil tahun lalu.
"Bibiku masih sangat muda, baru berusia 49 tahun. Kematian adalah hal yang paling jauh dari pikirannya. Bagaimana jika bibiku memakai bra seperti itu?" dia bertanya.
Laporan tambahan oleh Issariya Praithongyaem