Volltexte
Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Satu Aplikasi Jutaan
Cerita
Indonesia
DOWNLOAD NOW!
Tribun
LIVE ●
Deutsche Welle

Bagaimana Sikap Partai Populis Kanan Eropa dalam Konflik Hamas-Israel?

Perpecahan di Eropa seputar konflik Hamas-Israel dimanfaatkan partai-partai populis kanan untuk menggelorakan retorika anti-imigran.…

Tribun X Baca tanpa iklan
zoom-in Bagaimana Sikap Partai Populis Kanan Eropa dalam Konflik Hamas-Israel?
Deutsche Welle
Bagaimana Sikap Partai Populis Kanan Eropa dalam Konflik Hamas-Israel? 

Respons awal Uni Eropa terhadap serangan Hamas di Israel mencerminkan sebuah momen kesatuan yang langka di Parlemen Eropa. Kutukan terhadap teror Hamas yang datang dari penjuru spektrum politik, diikuti aksi solidaritas oleh warga, serta para pemimpin dan kepala negara.

Namun hanya dalam beberapa pekan, kesatuan berganti menjadi perpecahan. Ketika serangan balasan Israel mulai banyak menjatuhkan korban sipil, jalan-jalan kota di Eropa mulai dipenuhi massa pro-Palestina.

Korban terbesar adalah komunitas Yahudi dan muslim yang kini banyak mendapat permusuhan.

Di tengah perpecahan yang menguat, partai-partai sayap kanan Eropa mendapat posisi empuk untuk memetik keuntungan elektoral. "Mereka cendrung berjaya dalam krisis," kata Marta Lorimer, peneliti di London School of Economics, Inggris.

"Ada kelompok ekstrem kanan yang melihat Israel sebagai pos terdepan demokrasi Barat di Timur Tengah dan sebabnya harus dilindungi. Namun ada partai-partai populis kanan yang dalam beberapa tahun terakhir bergerak ke arah antisemitisme," imbuhnya.

Berikut ringkasan sikap politik partai-partai populis kanan Eropa dalam konflik di Timur Tengah

Jerman: Dorongan memotong dana bantuan bagi Palestina

Partai sayap kanan Alternative für Deutschland, AfD, sempat mendukung seruan penghentian bantuan pendanaan bagi Jalur Gaza, sebagai balasan terhadap serangan teror Hamas. Meski seruan serupa juga sempat digaungkan kader parpol lain, adalah AfD yang mengajukan proposal resmi di parlemen untuk menghentikan sumbangan dana kepada Badan PBB untuk Pengungsi Palestina, namun ditolak.

Rekomendasi Untuk Anda

Atas aksinya itu, AfD dituduh oleh Partai Sosialdemokrat, SPD, ingin memanfaatkan teror Hamas untuk menghasut Islamofobia. seperti tertera dalam siaran pers Bundestag tanggal 18 Oktober lalu yang merinci penolakan terhadan proposal AfD.

Setelah gagalnya usulan penangguhan pendanaan awal Oktober lalu, Uni Eropa telah menambah dana kemanusiaan untuk Gaza.

Prancis: kampanye nasional bersihkan citra antisemitsme

Selama bertahun-tahun, Marine Le Pen berupaya mendorong partai anti-imigran, National Rally, agar menjadi partai arus utama. Dia ingin menjauh dari bayang-bayang ayahnya dan sekaligus pendiri partai Jean-Marie, yang dipenjara karena menghasut kebencian rasial dan ujaran antisemitsme.

Peneliti Marta Lorimer meyakini, konflik Timur Tengah ingin dimanfaatkan oleh Le Pen untuk "melakukan proses sanitasi," demi melepas citra antisemitisme yang selama ini menghambat dukungan elektoral.

Baru-baru ini, Le Pen menghadiri protes massal menentang antisemitisme di Paris, sesuatu yang menurut Lorimer membantu mantan calon presiden itu "menempatkan dirinya di barisan kehormatan" dan menarik simpati pemilih Yahudi Prancis – meskipun, kata Lorimer, "dengan tingkat keberhasilan yang terbatas."

Denmark: Retorika anti-imigran

Teror Hamas direspons Partai Rakyat Denmark dengan menggencarkan retorika anti-imigran yang diboncengi rasisme terhadap warga non-kulit putih. Salah seorang kadernya di Parlemen Eropa, Anders Vistisen, mencari legitimasi dengan menyebut diri sebagai "pejuang nilai-nilai Denmark."

"Serangan kekerasan, kebencian terhadap Yahudi, propaganda Islam dan perpecahan masyarakat. Inilah yang diciptakan imigrasi kaum muslim di Denmark," tulisnya di X (dulu: Twitter) pada 9 November lalu.

Julie Pascoet, pejabat Jaringan Eropa Melawan Rasisme, mengatakan kepada DW, retorika seperti itu tidak berdasar dan diskriminatif.

Sumber: Deutsche Welle
Halaman 1/2
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di
Berita Populer
Atas