Serangan Houthi Makin Mengancam, 20 Negara Gabung AS Lindungi Laut Merah
Sebanyak lebih dari 20 negara telah setuju untuk berpartisipasi dalam koalisi baru pimpinan AS untuk menjaga lalu lintas komersial di Laut Merah.
Penulis: Andari Wulan Nugrahani
Editor: Nanda Lusiana Saputri
TRIBUNNEWS.COM - Serangan Houthi Yaman semakin membuat ketar-ketir Barat.
Sebanyak lebih dari 20 negara telah setuju untuk berpartisipasi dalam koalisi baru pimpinan Amerika Serikat (AS) untuk menjaga lalu lintas komersial di Laut Merah.
"Semakin banyaknya negara yang bergabung dalam upaya tersebut,"kata Pentagon pada hari Kamis (21/12/2023), dilansir Al Jazeera.
Namun Pentagon menunjukkan bahwa delapan negara yang telah mendaftar menolak disebutkan namanya secara publik, sebagai tanda sensitivitas politik dalam operasi tersebut ketika ketegangan regional meningkat akibat perang Israel-Hamas.
“Saat ini ada lebih dari 20 negara yang mendaftar untuk berpartisipasi,” kata Mayor Jenderal Patrick Ryder, sambil memperhatikan deklarasi Yunani dan Australia.
Baca juga: Aktivitas di Pelabuhan Eilat Israel Anjlok 85 Persen Imbas Serangan Houthi di Laut Merah
“Kami akan mengizinkan negara lain, membiarkan mereka membicarakan partisipasi merek,” tambahnya.
Amerika Serikat meluncurkan Operation Prosperity Guardian dua hari lalu.
Gedung Putih Mengatakan lebih dari selusin negara telah setuju untuk berpartisipasi dalam upaya yang melibatkan patroli bersama di perairan Laut Merah dekat Yaman.
"Setiap negara akan menyumbangkan apa yang mereka bisa," kata Ryder, menyebutnya sebagai koalisi yang berkeinginan.
“Dalam beberapa kasus, hal itu mencakup kapal. Dalam kasus lain, hal ini dapat mencakup staf atau jenis dukungan lainnya,” katanya dalam jumpa pers.
Krisis di Laut Merah muncul dari perang antara Israel dan kelompok milisi Palestina yang berkuasa di Gaza, Hamas.
Perang dimulai pada 7 Oktober ketika para pejuang Hamas menyerbu perbatasan Gaza ke Israel selatan.
Baca juga: AS Tuduh Iran Otak di Balik Serangan Houthi Yaman di Laut Merah
Di mana pihak berwenang Israel mengatakan para militan tersebut membunuh sekitar 1.200 orang yang sebagian besar adalah warga sipil Israel dan orang asing.
Pemboman dan invasi balasan Israel ke Gaza, yang menurut pejabat Israel bertujuan untuk memusnahkan Hamas.