Volltexte
Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●
Deutsche Welle

Hapus Stigma Negatif Warga Berkebutuhan Khusus Lewat Batik

Meski telah mandiri di rumah, warga berkebutuhan khusus juga ingin bekerja dan memiliki penghasilan sendiri tanpa bergantung ke anggota…

Tayang:
Baca & Ambil Poin
zoom-in Hapus Stigma Negatif Warga Berkebutuhan Khusus Lewat Batik
Deutsche Welle
Hapus Stigma Negatif Warga Berkebutuhan Khusus Lewat Batik 

"Saya ingin memberi ruang bagi kelebihan mereka tersalurkan dengan terus berkarya,” ujar Dini kepada DW Indonesia. Dirinya juga tidak memberi batasan usia kepada anak berkebutuhan khusus atau penyandang disabilitas untuk magang kerja di Dama Kara.

Saat ini ada delapan anak berkebutuhan khusus dan satu penyandang disabilitas yang karya dari terapi gambarnya lolos kurasi Dama Kara. Mereka semua telah dilatih dengan metode terapi menggambar dari kedua lembaga tersebut.

Dini pun menerapkan lingkungan kerja inklusif sebagai nilai perusahaannya. Kemampuan berkomunikasi dan empati kepada anak berkebutuhan khusus dan penyandang disabilitas menjadi salah satu syarat untuk calon karyawan yang bekerja di perusahaannya.

"Saat rekruitmen, saya selalu menanyakan apakah mereka siap bekerja sama dengan teman-teman istimewa," ujar Dini. Tidak hanya itu, peserta magang juga diharapkan bisa mandiri tanpa pendamping setelah hari pertama magang kerja di Dama Kara.

"Pertemuan pertama perlu didampingi, setelah itu dilepas. Supaya mereka lepas berekspresi," kata Dini.

Tren lingkungan kerja inklusif

Fendo Parama Sardi, Program Manager Yayasan Cheshire Indonesia yang mengadvokasi hak-hak penyandang disabilitas, menjelaskan bahwa banyak perusahaan di Indonesia sudah mulai merangkul penyandang disabilitas. Ia mengacu pada Undang Undang nomor 8 tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas yang mewajibkan perusahaan swasta mempekerjakan paling sedikit 1% penyandang disabilitas dari jumlah pegawai.

"Apalagi isu sekarang tentang global sustainability, lingkungan, dan inklusivitas, termasuk juga no one left behind. Tren akan meningkat," kata Fendo kepada DW Indonesia.

Rekomendasi Untuk Anda

Ia mengatakan bahwa manajemen perusahaan perlu memberikan pembinaan kepada karyawan untuk membantu pekerja penyandang disabilitas. Tujuannya agar karyawan memahami kebutuhan dan bantuan apa yang bisa diberikan kepada pekerja penyandang disabilitas. Termasuk cara berkomunikasi, tambahnya.

Selain itu, perusahaan juga perlu menyediakan fasilitas ruangan atau infrastruktur yang ramah terhadap penyandang disabilitas, kata Fendo.

Namun, Fendo menekankan bahwa orang berkebutuhan khusus memang ada penanganan yang berbeda karena mereka sulit untuk fokus dan mengikuti arahan. Ia mengingatkan bahwa mereka pada dasarnya perlu terapi sepanjang hidup. Bakat mereka cenderung lebih ke arah seni terutama yang sifatnya abstrak untuk menuangkan perasaannya.

"Kelebihan teman-teman autis dan down syndrome adalah ekspresi mereka yang tulus," ujar Fendo. (ae)

Jangan lewatkan konten-konten eksklusif berbahasa Indonesia dari DW. Ayo berlangganan gratis newsletter mingguan Wednesday Bite. Recharge pengetahuanmu di tengah minggu, biar topik obrolan makin seru!

Sumber: Deutsche Welle
Halaman 2/2
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Populer
Atas