Paris Targetkan Olimpiade 2024 Lebih Ramah Lingkungan
Sebagai tuan rumah Olimpiade 2024, Paris ingin selenggarakan pertandingan ramah lingkungan dengan lebih banyak perlindungan iklim…
Kepala polisi Paris juga mengumumkan langkah-langkah keamanan yang drastis bagi warga. Area terlarang sedang disiapkan di sekitar lokasi Olimpiade. Area ini hanya akan dapat dilewati dengan kode QR tertentu. Tujuannya antara lain untuk mencegah terulangnya insiden seperti serangan pisau di Menara Eiffel pada awal Desember. Penghuni juga harus mendaftarkan semua pengunjung yang ingin menyaksikan aksi pertandingan dari balkon, jendela, atap rumah, atau bahkan rumah kapal.
Warga khawatirkan harga hunian tidak terjangkau
Hamid Ouidir, advokat bagi penduduk Desa Olimpiade di St. Denis, khawatir akan dampak ekonomi bagi dirinya dan tetangganya serta penurunan kualitas udara akibat banyaknya lalu lintas. Dia juga tidak yakin akan cukup banyak apartemen tersedia setelah Olimpiade.
"Apartemen tersebut sebagian besar akan dibeli oleh orang-orang dari luar. Penduduk lokal tidak mampu membeli apartemen dengan harga sekitar 7.000 euro per meter persegi," kata Ouidir kepada DW.
Banyak orang juga tidak menyukai pengumuman pemerintah setempat bahwa tiket kereta bawah tanah akan naik hampir dua kali lipat selama pertandingan. Angkutan umum di Paris sudah dianggap kelebihan beban. Khususnya Ligne B, yang menuju ke departemen Seine-Saint-Denis, tempat sejumlah acara akan berlangsung.
Selain itu, para atlet dan ofisial mengkritik kurangnya AC di Perkampungan Olimpiade karena kemungkinan akan terjadi gelombang panas. Sekalipun panitia menjanjikan idealnya suhu ruangan enam derajat lebih dingin daripada suhu di luar, hal itu tidak masuk akal pada suhu 40 derajat.
Konsep keamanan juga menimbulkan kritik besar-besaran. Para politisi mengkhawatirkan kebebasan warga negara, bahkan mungkin selepas Olimpiade. Aktivis hak asasi manusia seperti Amnesty International khawatir akan "langkah-langkah pengawasan massal yang drastis." Mereka juga khawatir bahwa langkah selanjutnya adalah penggunaan alat pengenalan wajah, seperti yang terjadi di Rusia atau Cina. (ae/hp)
Jangan lewatkan konten-konten eksklusif berbahasa Indonesia dari DW. Ayo berlangganan gratis newsletter mingguan Wednesday Bite. Recharge pengetahuanmu di tengah minggu, biar topik obrolan makin seru!
