Analisis Kekuatan Militer Rusia Vs Ukraina Jelang Peringatan 2 Tahun Pertempuran
Ini penjelasan analisis mengenai kekuatan militer Rusia dan Ukraina, menjelang peringatan dua tahun invasi.
Penulis:
Andari Wulan Nugrahani
Editor:
Nanda Lusiana Saputri
TRIBUNNEWS.COM - Ini penjelasan analisis mengenai kekuatan militer Rusia dan Ukraina, menjelang peringatan dua tahun invasi.
Sudah dua tahun Ukraina melawan Rusia, membebaskan wilayahnya dan memukul mundur pasukan Rusia.
Sayangnya, pasokan senjata, taktik militer dan banyak lainnya yang digembor-gemborkan tahun lalu, tidak membuahkan banyak hasil nyata.
Serangan balasan Ukraina telah berubah menjadi peperangan yang lambat.
Kualitas tentara Rusia mungkin dipertanyakan, namun mereka masih mampu menghalangi kemajuan Ukraina.
Meski begitu, perpaduan persenjataan baru dan lama telah mengubah dinamika medan perang.
Beberapa taktik baru sedang dikembangkan dan sistem persenjataan yang sukses telah diterapkan seiring dengan penggunaan taktik lama, seperti tank.
Terlepas dari semua inovasi abad ke-21, medan perang di Ukraina selatan mulai mengalami dinamika Perang Dunia I yang menakutkan.
Dilansir Al Jazeera, seorang jenderal dari satu abad yang lalu tidak akan kesulitan memahami betapa brutalnya konflik ini.
Dikedua belah pihak, drone telah menjadi bagian integral dari kedua pihak dalam perang ini.
Drone kecil milik Ukraina digunakan untuk menjatuhkan granat ke posisi Rusia, sehingga melemahkan semangat pasukan yang terjebak di parit dan lubang perlindungan.
Baca juga: Perang Rusia-Ukraina Hari Ke-729, Zelensky Ngemis Bantuan Lagi ke Kongres AS
"Kedua pihak yang bersaing telah menyadari manfaat tidak hanya dari drone pengintai, tetapi juga drone jarak jauh yang dapat digunakan untuk menyerang sasaran berharga jauh di belakang garis musuh," papar laporan Al Jazeera.
Rusia telah menggunakan ratusan drone Shahed-136 yang diimpor Iran sebagai rudal jelajah murah.
Meski terbang lambat, Shahed-136 berfungsi melemahkan pertahanan udara Ukraina, menghabiskan persediaan rudal Ukraina karena kombinasi serangan drone, kapal pesiar, dan rudal balistik terus mengikis kemampuan Ukraina untuk mempertahankan diri.
Ukraina merencanakan produksi massal drone yang dapat menghancurkan target hingga 1.000 km (620 mil) jauhnya, yang secara teoritis mampu menjangkau Moskow dan St Petersburg.