Perjuangan Raden Ajeng Kartini Melintas Batas Identitas
Raden Ajeng Kartini adalah satu perempuan pahlawan nasional yang kita kenal sebagai pejuang kesetaraan perempuan di masa penjajahan…
Kartini juga bicara tentang bahaya fanatisme dalam beragama, karena dapat menyebabkan orang saudara kandung saling berlawanan hanya karena berlainan cara mengabdi kepada Tuhan Yang Mahaesa.
Pasangan yang saling mengasihi akhirnya bercerai-berai akibat berlainan tempat menyembah Tuhan. Pembunuhan pun juga dapat terjadi dengan mengatasnamakan agama. Dalam kebimbangan, ia mempertanyakan benarkah agama itu restu bagi manusia. "Agama harus menjaga kita daripada berbuat dosa, tetapi berapa banyaknya dosa diperbuat orang atas nama agama itu!”
Inspirasi Pergerakan
Pada zaman diberlakukannya pingitan terhadap anak perempuan sejak usia 12 tahun untuk menunggu perjodohan, Kartini bertahan hingga usia 23 tahun untuk tidak menikah. Sebuah ketidaklaziman di masa itu terlebih bagi Kartini yang lahir sebagai keluarga ningrat.
Namun di luar kuasanya, ia harus masuk dalam tradisi dan dinikahkan dengan Bupati Rembang Djoyoadiningrat pada tahun 1903. Setahun kemudian pada 13 September 1904 Kartini melahirkan RM Soesalit dan belum seminggu setelah melahirkan, tepatnya 17 September 1904 adalah akhir dari hidupnya.
Empat tahun sebelumnya Kartini menuliskan surat yang berat sekaligus penting untuk perjuangan perempuan. Ia mengatakan bahwa ”jalan yang hendak saya tempuh itu sukar, penuh duri, onak dan lubang; jalan itu berbatu-batu, terjal, licin....belum dirintis! Dan walaupun saya tidak beruntung sampai ke ujung jalan itu, walaupun saya sudah akan patah di tengah jalan, saya akan mati dengan bahagia. Sebab jalan tersebut sudah terbuka dan saya turun membantu menerabas jalan yang menuju kebebasan dan kemerdekaan perempuan Bumiputera”.
Dalam sebuah tulisan, dinyatakan bahwa perjuangan Kartini menginspirasi gerakan perempuan dan lebih jauh menginspirasi dokter Tjipto Mangoenkoesoemo yang memiliki keprihatinan terhadap kesehatan rakyat Bumiputera yang terjajah. Para siswa STOVIA menghidupkan pikiran-pikiran Kartini dengan cara mendirikan Raden Adjeng Kartini Club oleh Tjipto Mangoenkoesoemo, seorang pelopor gerakan anti kolonialisme yang radikal.
Sudah lebih seabad Kartini meninggal dunia, namun jiwa juangnya tetap membara dan menjadi tanggung jawab kita untuk melanjutkannya. Tanggung jawab bersama untuk memerdekakan perempuan dari belenggu patriarki dan memperjuangkan keadilan dan kesetaraan perempuan dengan ragam identitasnya di semua sektor sosial budaya, ekonomi dan politik.
@Misiyah, Direktur Institut KAPAL Perempuan 2016-2019 dan Steering Committee "Gender Watch” MAMPU dan SDGs. Ia menekuni isu-isu feminisme selama 20 tahun terakhir dan aktif dalam gerakan perempuan, mengembangkan pemberdayaan perempuan, kepemimpinan perempuan untuk gerakan kesetaraan gender dan perdamaian. Saat ini menjadi direktur Institut KAPAL Perempuan, sebuah organisasi yang fokus pengembangan pendidikan kritis dengan perspektif feminisme dan pluralisme.
*Setiap tulisan yang dimuat dalam #DWnesia menjadi tanggung jawab penulis.

Baca tanpa iklan