Kenapa Penularan Malaria Tak Kunjung Surut di Dunia?
Setelah sempat turun selama dua dekade, kasus penularan malaria kembali meningkat di seluruh dunia sejak 2015. Kenapa program eradikasi…
"Pengendalian malaria harus dilihat bagai perlombaan senjata,” kata Umberto D'Alessandro, peneliti malaria dan Kepala Unit Dewan Penelitian Medis London School of Hygiene and Tropical Medicine di Gambia, kepada DW.
Menurutnya, nyamuk atau parasit akan cepat beradaptasi dengan semua jenis insektisida atau obat-obatan baru. Sebab itu, "pengembangan metode intervensi yang lebih efisien adalah proses yang terus berjalan.”
Minimnya dukungan bagi sains
Repotnya, dana penelitian malaria terus menurun dan mencapai level terendah dalam 15 tahun terakhir pada tahun 2022, menurut laporan WHO.
"Pada tahun 2007, Bill dan Melinda Gates mengumumkan bahwa mereka ingin menghilangkan sepenuhnya malaria saat mereka masih hidup, yang menurut saya mustahil terjadi. Tapi ada dorongan besar untuk mengupayakannya," kata Cook. "Jelas memang ada sedikit keberhasilan, tapi saya pikir orang-orang mulai menyadari bahwa ambisi ini bukan hal yang mudah diwujudkan."
Dalam laporannya tahun 2023 lalu, WHO mengkaitkan kemunduran di 11 negara dengan keterbatasan akses terhadap layanan kesehatan, konflik yang sedang berlangsung, dampak pandemi COVID, kurangnya pendanaan, dan masalah lain seperti resistensi insektisida.
Vaksin juga mulai berperan dalam memerangi malaria. Dua vaksin malaria, RTS,S dan R21/Matrix M, telah mendapat persetujuan WHO. Distribusi RTS,S telah dimulai, sedangkan peluncuran R21 akan dimulai pada Mei 2024. Para ahli mengaku optimis, tetapi seraya memperingatkan bahwa vaksinasi malaria bukan solusi terbaik.
(rzn/as)

Baca tanpa iklan