Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Satu Aplikasi Jutaan
Cerita
Indonesia
DOWNLOAD NOW!
Tribun
LIVE ●
BBC

Apa dampak dua tahun Perang Ukraina terhadap hubungan China dan Rusia?

China adalah sekutu penting bagi Rusia, namun Xi Jinping menghadapi tekanan yang semakin besar untuk menjauhkan diri dari “sahabat…

Tribun X Baca tanpa iklan
zoom-in Apa dampak dua tahun Perang Ukraina terhadap hubungan China dan Rusia?
BBC Indonesia
Apa dampak dua tahun Perang Ukraina terhadap hubungan China dan Rusia? 

Faktanya adalah perekonomian China yang lesu tidak mampu menanggung tekanan terhadap Rusia - mitra dagangnya. Permintaan di dalam negeri yang lemah berarti mereka membutuhkan pasar di luar negeri.

Semua ini membuat Xi berada dalam situasi yang canggung.

Menemukan batasan

Beberapa hari sebelum Rusia menyerang Ukraina, kedua pemimpin mengumumkan kemitraan "tanpa batas" untuk meningkatkan kerja sama. Hal ini masuk akal bagi kedua negara yang sama-sama punya ideologi melawan Barat.

Beijing masih menganggap Moskow sebagai kunci untuk mengubah tatanan dunia yang saat ini dipimpin AS. Perdagangan antara kedua negara berkembang pesat.

Energi Rusia yang murah, termasuk pengiriman gas secara stabil melalui pipa Siberia, telah memberikan manfaat bagi China.

Namun, seiring dengan perang yang terus berlanjut, aliansi ini tampaknya tak begitu "tak terbatas". Analisa BBC menemukan bahwa istilah tersebut hampir hilang dari media pemerintah.

"Meskipun Tiongkok mendukung tujuan untuk melemahkan pengaruh Barat, namun Tiongkok tidak setuju dengan beberapa taktik Rusia, termasuk ancaman penggunaan senjata nuklir," kata Zhao Tong, peneliti senior di Carnegie Endowment.

Rekomendasi Untuk Anda

"China sangat sadar akan dampak reputasi yang ditimbulkan karena memberikan dukungan tanpa syarat kepada Rusia dan terus menyempurnakan upayanya untuk meningkatkan legitimasinya di panggung global."

Dalam kunjungannya ke Eropa baru-baru ini, Xi mengatakan negaranya "bukanlah pencipta krisis ini, bukan pihak di dalamnya, atau yang berpartisipasi".

Hal ini juga terus-menerus disampaikan China kepada warganya.

'Rakyat Ukraina masih berdarah-darah'

Meski China membuat klaim bahwa Beijing netral dalam perang Rusia-Ukraina, tidak berarti simpati terhadap Ukraina mudah terlihat di media China yang disensor ketat.

Media pemerintah China masih membenarkan invasi Rusia, dan menyebutnya sebagai pembalasan cepat Moskow terhadap ekspansi NATO yang didukung AS.

Ketika seniman Tiongkok Xu Weixin melihat ledakan dahsyat pertama yang melanda ibu kota Ukraina, Kyiv, di televisi pada tahun 2022, dia merasa terdorong untuk mendokumentasikannya.

“Saya tidak punya senjata, tapi saya punya pena,” katanya kepada BBC dari studionya di AS.

Sumber: BBC Indonesia
Halaman 2/4
BBC
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Populer
Atas