Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Satu Aplikasi Jutaan
Cerita
Indonesia
DOWNLOAD NOW!
Tribun
LIVE ●
BBC

Mitos dan stigma seputar vasektomi di Indonesia: Benarkah ‘hubungan seks jadi hambar' hingga 'berisiko kanker prostat’?

Vasektomi, sebagai salah satu opsi kontrasepsi, masih tidak populer sejak digaungkan di Indonesia pada era 1970-an. Beragam mitos…

Tribun X Baca tanpa iklan
zoom-in Mitos dan stigma seputar vasektomi di Indonesia: Benarkah ‘hubungan seks jadi hambar' hingga 'berisiko kanker prostat’?
BBC Indonesia
Mitos dan stigma seputar vasektomi di Indonesia: Benarkah ‘hubungan seks jadi hambar' hingga 'berisiko kanker prostat’? 

“Kalau laki-laki yang KB kasihan, nanti enggak nyaman, apalagi vasektomi pengaruh ke kesehatannya”.

“Perempuan aja yang berkorban”.

“Nanti kalau berhubungan seks itu rasanya jadi hambar, lho”.

“Hati-hati nanti kena kanker prostat”.

“Kata ustad, vasektomi dan tubektomi enggak boleh”.

Itu adalah komentar yang dihadapi oleh pasangan suami-istri yang sama-sama berusia 32 tahun, Gita Hermanda dan Panji Depitra.

Komentar itu datang dari tenaga kesehatan, keluarga, hingga warganet setelah mereka mengutarakan rencana untuk vasektomi.

Rekomendasi Untuk Anda

Komentar-komentar itu membuat Gita geram. Sebagai perempuan yang menggunakan kontrasepsi IUD, Gita kerap merasa sakit dan tak nyaman. Berulang kali alat kontrasepsi itu bergeser dari rahimnya.

Suaminya, Panji, mengaku punya tekad kuat untuk vasektomi. Mereka berdua juga sudah sepakat untuk tidak mau memiliki anak lagi setelah dikaruniai seorang putri.

“Itu sudah jadi keputusan dari diri saya sendiri, bukan sebatas karena kasihan sama Gita, tapi saya sendiri juga tidak mau punya anak lagi. Kalau laki-laki bisa punya andil [untuk KB], kenapa enggak? Di dalam rumah tangga kan bukan cuma istri yang harus berkorban,” tutur Panji kepada BBC News Indonesia.

Tetapi keputusan Panji atas dirinya sendiri ternyata menuai rasa “kasihan” hingga kekhawatiran dari orang lain yang menurut Gita dan Panji, tidak berdasar.

“Kenapa sih kalau perempuan yang merasa sakit karena KB itu diwajarkan, tapi kalau laki-laki enggak boleh sakit?” tanya Gita.

“Kenapa yang dipikirkan itu selalu kenikmatan laki-laki dulu? Memangnya KB untuk perempuan enggak berdampak ke kesehatan?”

Tetapi, Panji terpaksa menunda rencananya setelah ditolak saat mendaftar pada program vasektomi gratis dari Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN).

Sumber: BBC Indonesia
Halaman 1/4
BBC
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Populer
Atas