Volltexte
Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●
Deutsche Welle

Menilik Teladan Paus Fransiskus Bagi Bangsa Indonesia

Jika tidak ada aral melintang, Paus Fransiskus yang bernama asli Jorge Mario Bergoglio (l. 1936) akan berkunjung ke Indonesia. Apa…

Tayang:
Baca & Ambil Poin
zoom-in Menilik Teladan Paus Fransiskus Bagi Bangsa Indonesia
Deutsche Welle
Menilik Teladan Paus Fransiskus Bagi Bangsa Indonesia 

Meskipun kondisi Indonesia tidak separah dan sekrisis Palestina, Irak, Yaman, Sudan, Suriah, Afganistan dan negara-negara berpenduduk mayoritas muslim lainnya yang rawan perang dan kekeraan, negeri ini bukan berarti dalam keadaan damai, aman sentosa, dan baik-baik saja.

Humanisme

Setali tiga uang, humanisme–sebuah prinsip dan watak kemanusiaan universal melampaui batas-batas atau sekat-sekat primordial agama, etnis, suku, daerah, atau ideologi–juga masih menjadi barang langka di Indonesia.

Humanisme yang berkembang di Indonesia bukanlah "humanisme universal” melainkan semacam "humanisme primordial” atau "humanisme partikular”. Misalnya, masyarakat tergerak menolong atau membela orang atau masyarakat lain karena ada ikatan-ikatan primordial tertentu (misalnya karena seagama, seiman, seetnis, seormas, separtai, dan seterusnya).

Mari kita lihat dan tes simpel saja. Dalam kasus konflik Israel-Palestina, publik Indonesia bisa dikatakan terbelah menjadi dua kubu ekstrem: "kubu Israel” dan "kubu Palestina.” "Kubu Israel” biasanya terdiri atas umat kristiani (tentu saja tidak semuanya), Yahudi (meski populasinya sedikit), atau kelompok anti-Islam, sedangkan "kubu Palestina” sudah pasti didominasi oleh umat Islam dari berbagai macam kelompok dan ormas keislaman.

Dalam amatan saya, kedua kubu ini sama-sama "defisit humanisme” karena hanya membela kelompok (pelaku maupun korban) yang diimajinasikan sekubu dengan mereka saja dan pada saat yang sama mengabaikan kelompok yang mereka imajinasikan tidak sekubu. Misalnya, "kubu Israel” cenderung mengabaikan praktik kekerasan terhadap rakyat Palestina yang dilakukan oleh rezim ultranasionalis Israel, sementara "kubu Palestina” juga acuh dengan tragedi yang menimpa warga Israel akibat serangan kelompok militan Hamas (atau belakangan Houti).

Dalam konteks ini sikap Paus Fransiskus sangat patut dihargai karena konsistensinya dalam membela hak-hak rakyat Palestina dan pengutukan tindakan kekerasan baik yang dilakukan oleh rezim militan Israel maupun Hamas dan lainnya tanpa memandang latar belakang agama para pelaku dan korban kekerasan.

Refleksi Bersama

Itulah empat hal yang penting untuk dijadikan bahan refleksi bersama saat kunjungan Paus Fransiskus nanti. Dalam hal ini, bukan Paus yang mesti belajar dari Indonesia tetapi masyarakat Indonesialah yang harus mempelajari dan meneladani watak, prinsip, sikap, dan praktik Paus yang ekumenis, pluralis, pasifis, dan humanis.

Rekomendasi Untuk Anda

Saya berharap (meskipun saya sadar bahwa harapan tidak selalu sesuai dengan kenyataan yang sering kali getir dan menyakitkan) kunjungan Paus nanti bisa menginspirasi publik Indonesia, baik pemerintah maupun masyarakat umum, untuk membangun bangsa dan negara tercinta ini di atas fondasi ekumenisme, pluralisme, pasifisme, dan humanisme sejati.

Sumanto Al Qurtuby

Pendiri Nusantara Institute dan Pengajar King Fahd University of Petroleum & Minerals

*Setiap tulisan yang dimuat dalam #DWNesia menjadi tanggung jawab penulis.

Sumber: Deutsche Welle
Halaman 2/2
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Populer
Atas