Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●

Ibrahim Aqil

Komandan senior Hizbullah, Ibrahim Aqil terbunuh dalam serangan Israel di Beirut, Lebanon, Jumat (20/9/2024).

Tayang:
Baca & Ambil Poin
zoom-in Ibrahim Aqil
Al Mayadeen
Komandan Militer Tertinggi Hizbullah, Ibrahim Aqil, tewas diserang Israel dalam perjalanan menuju Yerusalem, Jumat (20/9/2024). 

TRIBUNNEWS.COM - Simak profil dari Komandan senior Hizbullah, Ibrahim Aqil berikut ini.

Ibrahim Aqil dilaporkan terbunuh dalam serangan Israel di Beirut, Lebanon, Jumat (20/9/2024).

Hizbullah mengonfirmasi kematian Aqil tak lama setelah serangan tersebut, CNN melaporkan.

"Serangan itu menewaskan sedikitnya 14 orang dan melukai 66 lainnya," kata Kementerian Kesehatan Masyarakat Lebanon, dalam jumlah korban awal.

Dikutip dari Al Jazeera, Aqil dilaporkan berada dalam pertemuan antara Hizbullah dan kelompok Palestina yang tidak disebutkan namanya ketika serangan Israel menghancurkan sedikitnya dua bangunan.

Selengkapnya inilah profil dari Ibrahim Aqil, yang telah Tribunnews rangkum.

Profil dan Sosok

Seperti kebanyakan pejabat militer senior Hizbullah, Aqil telah menjadi sosok yang samar-samar, jarang membuat penampilan atau pernyataan publik.

Rekomendasi Untuk Anda

Menurut pejabat AS, Aqil yang juga dikenal sebagai Tahsin bertugas di badan militer tertinggi Hizbullah, Dewan Jihad.

Ibrahim Aqil bergabung dengan Hizbullah pada 1980-an.

Ia bertanggung jawab atas serangan kelompok Hizbullah di luar Lebanon.

Aqil  dicari di AS sehubungan dengan perannya dalam pengeboman Kedutaan Besar AS di Beirut pada 1983 silam.

Peristiwa itu menewaskan 63 orang.

Baca juga: Profil Ibrahim Aqil, Komandan Militer Hizbullah Tewas Diserang Israel, Kepalanya Dihargai Rp106 M

Sementara pengeboman barak Korps Marinir AS menewaskan 241 personel AS.

Serangan tersebut diklaim oleh Organisasi Jihad Islam, sel Hizbullah, di mana Aqil merupakan anggota seniornya.

Tak hanya itu, Aqil juga disebut-sebut mengarahkan penangkapan tawanan Amerika dan Jerman pada 1980-an.

Halaman 1/2
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Populer
Atas