Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●
BBC

5 cara menjadi teman yang baik dan tidak menyebalkan

Ada beberapa langkah sederhana yang bisa diterapkan untuk meningkatkan hubungan pertemanan. Ternyata, sekadar mendengarkan curhat…

Tayang:
Tribun X Baca tanpa iklan
zoom-in 5 cara menjadi teman yang baik dan tidak menyebalkan
BBC Indonesia
5 cara menjadi teman yang baik dan tidak menyebalkan 

• Seberapa menjengkelkan hubungan Anda?

Siapa pun yang memunculkan dua atau lebih jawaban pada kedua pertanyaan tersebut dianggap memiliki "hubungan yang ambivalen". Keraguan akan reaksi mereka dapat menjadi sumber stres yang serius.

Dalam satu penelitian, sekadar mengetahui bahwa teman-teman mereka yang ambivalen duduk di ruangan sebelah sudah cukup untuk menaikkan tekanan darah peserta.

Kita mungkin tidak selalu bisa memberi dukungan yang dibutuhkan teman-teman, tetapi kita dapat mencoba agar tanggapan kita bisa lebih dapat diandalkan.

Misalnya, dengan cara mengelola suasana hati yang sedang buruk agar tidak dilampiaskan pada teman-teman.

Hindari ilusi transparansi

Kita terperangkap dalam pikiran kita sendiri, tetapi kadang kita terlalu melebih-lebihkan kemampuan orang lain untuk membaca keadaan emosional kita. Fenomena ini terkadang dikenal sebagai ilusi transparansi.

Saat wawancara kerja misalnya: kita berasumsi kegugupan terlihat jelas di wajah kita. Padahal, perasaan cemas seringkali jauh lebih sulit untuk dikenali.

Rekomendasi Untuk Anda

Kesalahan kognitif umum ini juga membuat kita jarang memberi apresiasi pada orang lain karena merasa mereka sudah bisa melihat rasa apresiasi itu di wajah kita.

Padahal, teman kita tidak bisa mengenali perasaan tersebut dan sebenarnya merasa diabaikan dan diremehkan.

Amit Kumar, di University of Texas di Austin, dan Nicholas Epley, di University of Chicago, meminta sekelompok peserta untuk menulis surat terima kasih kepada orang-orang penting dalam hidup mereka.

Dengan menggunakan survei untuk mengukur ekspektasi penulis surat dan reaksi penerima yang sebenarnya, para peneliti menemukan bahwa orang-orang secara konsisten tidak menyadari seberapa terkejutnya orang lain saat menerima kata-kata penghargaan, dan betapa senang mereka menerimanya.

Mereka berasumsi bahwa orang lain sudah tahu betapa bersyukurnya mereka.

Tentu saja, mungkin saja bahasa tubuh kita akan menyampaikan kehangatan dan penghargaan kita kepada orang lain, tetapi kita tidak dapat mengandalkan fakta itu. Artinya, perasan lebih baik diungkapkan dengan kata-kata.

Validasi perasaan orang lain (tetapi dorong mereka untuk mempertimbangkan perspektif baru)

Ketika mengalami masa sulit, secara naluriah seseorang akan mencari pengertian dari orang lain. Respons yang penuh empati bisa memvalidasi perasan dan meringankan beban mereka.

Sumber: BBC Indonesia
Halaman 2/4
BBC
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Populer
Atas