Volltexte
Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●
Deutsche Welle

Cek Fakta: Tips Cerdik Agar Tidak Tertipu Situs Web Palsu

Organisasi media kini menghadapi tren yang semakin menjamur: Situs web dan logo mereka dikloning untuk menyebarkan disinformasi. Bagaimana…

Tayang:
Tribun X Baca tanpa iklan
zoom-in Cek Fakta: Tips Cerdik Agar Tidak Tertipu Situs Web Palsu
Deutsche Welle
Cek Fakta: Tips Cerdik Agar Tidak Tertipu Situs Web Palsu 

Tak lama setelah Donald Trump memenangkan masa jabatan keduanya sebagai Presiden AS pada November lalu, sebuah gambar sampul majalah The Economist beredar di internet dengan keterangan dalam beberapa bahasa.

Judulnya "Apocalypse” yang menggambarkan Trump berhadapan dengan Presiden Rusia Vladimir Putin, dengan deretan roket jarak jauh di latar belakang.

Beberapa komentar di bawah unggahan ini khawatir bahwa ini adalah tanda dimulainya Perang Dunia Ketiga dan spekulasi tentang penggunaan senjata nuklir. Namun, gambar sampul ini tidak pernah ada, dan The Economist tidak pernah menerbitkan cerita semacam itu. Bahkan, tidak ada gambar tersebut di arsip majalah itu.

Ini adalah salah satu taktik disinformasi yang dikenal dengan nama media spoofing. Semakin banyak media terkemuka di seluruh dunia yang melihat logo, situs web, profil media sosial, dan tampilan mereka disalahgunakan untuk menyebarkan berita palsu atau menyesatkan.

Meski strategi disinformasi ini bukan hal baru, namun semakin banyak ditemui di berbagai belahan dunia, seperti yang terlihat dari beberapa contoh terbaru.

Salah satunya adalah tangkapan layar artikel palsu dari CNN yang mengklaim bahwa sistem satelit Starlink milik Elon Musk menyebabkan pemadaman listrik di Ukraina setelah kunjungan kontroversial Presiden Volodymyr Zelenskyy ke Gedung Putih.

Atau website palsu majalah berita Jerman Der Spiegel yang mengklaim "Sanksi terhadap Rusia Merusak Ekonomi Jerman.”

Rekomendasi Untuk Anda

Ada pula website tiruan dari surat kabar Perancis Le Parisien yang menyebutkan bahwa imigran ilegal menjadi ancaman bagi Olimpiade Paris.

Selain itu, terdapat cerita dengan logo situs hiburan E! News yang mengklaim bahwa USAID telah mensponsori perjalanan selebritas ke Ukraina.

Tim Pemeriksaan Fakta DW telah membongkar klaim tersebut yang disebarkan oleh pemilik X (sebelumnya Twitter), Elon Musk, yang memiliki 220 juta pengikut, dan Donald Trump Jr., anak Presiden AS, yang memiliki 14,7 juta pengikut di X.

Namun, masalah ini bukan hanya terjadi di AS dan Eropa. Media di seluruh dunia, dari Haaretz di Israel hingga La Prensa di Nikaragua, sudah menjadi korban pencurian identitas seperti ini.

Selain itu, para ilmuwan di Nigeria juga menyelidiki banyak profil media sosial palsu, khususnya di Facebook, dari dua surat kabar berbahasa Inggris, Vanguard dan Daily Trust.

Lalu, apa yang sebenarnya terjadi dengan masalah disinformasi ini dan apa dampaknya? Dan yang paling penting: bagaimana cara mengetahui apakah berita yang kamu konsumsi berasal dari sumber yang terpercaya?

Dari manipulasi foto hingga media spoofing yang canggih

Contoh-contoh ini menunjukkan bahwa berita palsu dapat muncul dalam berbagai bentuk: mulai dari gambar yang diubah untuk memanipulasi teks atau logo media, hingga situs web atau profil media sosial yang sepenuhnya meniru organisasi media terkenal, yang dikenal dengan istilah media spoofing.

Beberapa pemalsuan juga menggunakan teknologi kecerdasan buatan. Biasanya, pemalsuan ini berkembang pesat saat peristiwa besar seperti pemilu, perang, bencana alam, atau krisis ekonomi terjadi.

Sumber: Deutsche Welle
Halaman 1/3
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Populer
Atas