Akankah Amerika Serikat Benar-benar Angkat Kaki dari Suriah?
Meski jumlah pasukan dikurangi, kompleksitas ancaman di wilayah itu membuat kehadiran AS kemungkinan belum akan benar-benar berakhir dalam waktu dekat
Penulis:
Andari Wulan Nugrahani
Editor:
Sri Juliati
Meski Pentagon meyakinkan bahwa konsolidasi ini tetap memungkinkan AS menekan ISIS dan merespons ancaman teroris lainnya, situasi di lapangan menunjukkan peningkatan aktivitas militan.
Aktivitas ISIS Naik Dua Kali Lipat
ISIS mengklaim 294 serangan di Suriah sepanjang 2024, naik drastis dari 121 serangan pada tahun sebelumnya, menurut data yang dikutip dari NYT.
Sejak awal 2025, setidaknya 44 serangan telah terjadi, menurut laporan Institut Timur Tengah di Washington.
Tekanan juga datang dari milisi pro-Iran.
Pada Januari 2024, tiga tentara AS tewas dalam serangan drone di Yordania.
Sejak 2014, AS memimpin koalisi internasional untuk melawan ISIS, mendukung pasukan lokal di Irak dan Suriah, termasuk SDF yang mayoritas Kurdi.
Kemenangan atas ISIS diumumkan pada akhir 2017 di Irak dan pada Maret 2019 di Suriah, saat benteng terakhir kelompok itu direbut.
Baca juga: Profil Ahmed al-Sharaa, Presiden Suriah yang Masuk 100 Tokoh Paling Berpengaruh Versi TIME
Meski kekhalifahan ISIS runtuh, para jihadis masih aktif di pedesaan terpencil.
AS secara berkala melancarkan operasi militer untuk menggagalkan kebangkitan kelompok tersebut.
Setelah jatuhnya Assad, perhatian militer AS juga mulai beralih ke Yaman, di mana kelompok Houthi menyerang jalur pelayaran internasional sejak akhir 2023.
AS membalas dengan serangan udara terhadap target yang dianggap terkait Iran.
Irak juga Bersiap Akhiri Kehadiran AS
Di sisi lain, Irak juga berupaya mengakhiri kehadiran koalisi pimpinan AS di wilayahnya.
Washington dan Baghdad telah menyepakati bahwa misi militer AS di Irak akan berakhir pada akhir 2025, dan di wilayah Kurdistan pada September 2026.
(Tribunnews.com, Andari Wulan Nugrahani)
Baca tanpa iklan