Bisakah Afrika Selatan Tengahi Perdamaian Rusia dan Ukraina?
Meski memiliki pengalaman dalam diplomasi dan mediasi konflik, pengaruh Pretoria dalam mengubah dinamika perang besar ini belum terlihat jelas.
Penulis:
Andari Wulan Nugrahani
Editor:
Bobby Wiratama
Ramaphosa sendiri menyatakan negara-negara Afrika, termasuk Afrika Selatan, siap berperan sebagai penjamin.
Afrika Selatan sebagai Penengah?
Menteri Luar Negeri Afrika Selatan, Ronald Lamola, mengatakan negaranya memiliki posisi yang baik untuk menjadi penengah.
Hal ini mengingat pengalamannya dalam mengakhiri apartheid dan memediasi konflik di Afrika.
Lamola menegaskan bahwa Afrika Selatan percaya pada diplomasi dan dialog sebagai jalan menuju perdamaian, bukan pada pendanaan perang.
Beberapa analis meragukan apakah Afrika Selatan benar-benar memiliki pengaruh untuk mengatasi konflik yang melibatkan kekuatan besar seperti AS dan Rusia.
Kingsley Makhubela, analis politik dari Universitas Pretoria, menilai Afrika Selatan kemungkinan akan terjebak di tengah kepentingan AS dan Uni Eropa yang berusaha menyelesaikan konflik ini.
Makhubela juga mencatat ketidakpastian mengenai peran Afrika Selatan dalam proses perdamaian, mengingat sebagian besar pihak internasional yang terlibat tidak memiliki pengaruh yang cukup besar dalam proses ini.
Pendapat Oposisi dan Partai MK
Oposisi di Afrika Selatan, termasuk MK, menentang keras kunjungan Zelensky. MK mengkritik Ramaphosa karena mengundang Zelensky, dengan alasan bahwa pemimpin Ukraina adalah "boneka NATO" yang memprovokasi Rusia.
Baca juga: Perang Rusia-Ukraina Hari ke-1157: Lavrov Klaim Rusia Siap Capai Kesepakatan tapi Perlu Dipoles
MK juga menghadapi tuduhan hubungan finansial dengan Rusia, meskipun mereka membantahnya.
Di sisi lain, Asosiasi Ukraina Afrika Selatan (UAZA) mendukung upaya Zelensky. UAZA menegaskan bahwa Afrika Selatan dan Ukraina sama-sama negara demokrasi, dan menyoroti pembatasan kebebasan berekspresi di Rusia.
UAZA juga mengkritik ketidakberpihakan pemerintah Afrika Selatan terhadap invasi Rusia ke Ukraina.
Tantangan dalam Menyelesaikan Konflik
Pada konferensi pers bersama, Ramaphosa menegaskan Afrika Selatan berkomitmen untuk mengupayakan gencatan senjata komprehensif dan membuka jalan bagi perundingan.
Ramaphosa juga mengungkapkan keprihatinannya terhadap hilangnya nyawa warga sipil dan kerusakan infrastruktur di Ukraina.
Namun, Dzvinka Kachur dari UAZA menyatakan bahwa perdamaian hanya mungkin tercapai jika Rusia menghentikan pendudukannya di wilayah Ukraina.
Ia menekankan bahwa solusi damai memerlukan perubahan besar di dalam Rusia.
Sementara itu, dalam pembicaraan dengan Putin, Ramaphosa menyampaikan komitmen Afrika Selatan untuk terus melibatkan semua pihak yang terdampak untuk mencari solusi perdamaian.
(Tribunnews.com, Andari Wulan Nugrahani)
Baca tanpa iklan