Perang Tarif AS-Tiongkok, Strategi Bertahan Beijing Disebut Picu Risiko Ekonomi
Tiongkok merasakan panasnya perang tarif dengan Amerika Serikat (AS), namun bagaimana dengan sikap Presiden Xi Jinping.
Editor:
Wahyu Aji
Media pemerintah Tiongkok terus memproyeksikan ketahanan, meyakinkan publik bahwa ekonomi dapat bertahan dari turbulensi yang sedang berlangsung. Namun, di balik layar, tanda-tanda penyesuaian mulai muncul.
The Wall Street Journal melaporkan bahwa Beijing sedang mempertimbangkan penghapusan tarif 125% yang besar pada impor tertentu dari AS, yang menandakan perubahan kebijakan yang tenang namun signifikan untuk mengekang gangguan industri.
Jika Tiongkok melanjutkan pola konsesi yang tenang ini sambil mempertahankan sikap publik yang keras, hal itu berisiko memperdalam ketidakstabilan ekonomi daripada mengamankan ketahanan jangka panjang.
Keengganan Xi Jinping untuk secara terbuka menyesuaikan kebijakan dalam menanggapi tekanan perdagangan yang meningkat dapat memperpanjang ketidakpastian keuangan, mengikis kepercayaan investor, dan membatasi fleksibilitas Beijing dalam negosiasi global.
Penekanan PKT pada kekuatan politik atas pragmatisme ekonomi dapat menyebabkan stagnasi, yang memaksa ketergantungan yang lebih besar pada intervensi yang dikendalikan negara.
Tanpa kalibrasi ulang yang strategis, Tiongkok mungkin menemukan dirinya dalam posisi yang semakin genting—terisolasi secara diplomatis, tertekan secara finansial, dan rentan terhadap penurunan ekonomi jangka panjang.
Seiring dengan perkembangan pasar global dan pergeseran aliansi perdagangan, pendekatan Beijing dapat menentukan apakah Tiongkok akan stabil atau terus mengalami penurunan.