Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●

Direktur PSID: SBY Suara Jernih di Tengah Kepungan Retorika Perang

Dalam pernyataan itu, ia mengingatkan bahwa kekuatan militer tidak boleh menggantikan etika kemanusiaan dan prinsip hukum internasional.

Tayang:
Tribun X Baca tanpa iklan
Penulis: willy Widianto
zoom-in Direktur PSID: SBY Suara Jernih di Tengah Kepungan Retorika Perang
Instagram @presidenyudhoyonoalbum
Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) berbicara dalam forum Tokyo Conference 2025, di Tokyo, Jepang, 4 Maret 2025. SBY sempat menyampaikan pandangannya mengenai perang antara Israel-Iran dalam wawancara dengan stasiun televisi pada 16 Juni 2025.  

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Direktur Pusat Studi Islam dan Demokrasi (PSID), Nazar El Mahfudzi, menilai pandangan Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) soal perang Israel-Iran, sebagai bentuk keberanian moral di saat dunia justru terseret logika kekuatan dan kepentingan geopolitik.

"Dalam kacamata SBY, konflik tidak boleh dilihat secara hitam putih. Iran bukan semata-mata agresor, dan Israel bukan semata korban. Keduanya memiliki sejarah panjang yang membentuk respons dan retorika mereka hari ini," ujar Nazar dalam keterangan tertulis, Rabu (18/6/2025).

SBY menyampaikan pandangannya dalam wawancara dengan sebuah stasiun televisi pada 16 Juni lalu.

Dalam pernyataan itu, ia mengingatkan bahwa kekuatan militer tidak boleh menggantikan etika kemanusiaan dan prinsip hukum internasional.

SBY juga menyerukan pentingnya literasi media kepada masyarakat Indonesia dan dunia. Ia mengajak publik untuk tidak menelan begitu saja framing tunggal dari media internasional terkait konflik Timur Tengah.

"Apakah media global menampilkan semua sisi cerita? Apakah suara warga sipil Iran dan Israel terdengar, atau hanya para jenderal dan presiden?" kata Nazar mengutip pernyataan SBY.

Baca juga: 3 Skenario Rahasia AS-Israel Sebelum Serang Iran Bocor! Opsi Keempat Lebih Dahsyat

Sebagai mantan jenderal dan presiden dua periode, SBY dinilai paham medan konflik sekaligus nilai penting dari diplomasi. 

Rekomendasi Untuk Anda

Menurut Nazar, solusi jangka panjang atas konflik seperti ini hanya bisa lahir dari dialog multilateral yang adil, bukan melalui embargo atau kekerasan bersenjata.

SBY juga disebut konsisten mendorong Indonesia agar memainkan peran lebih aktif dalam penyelesaian konflik global, termasuk melalui forum Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) dan Organisasi Kerja Sama Islam (OKI).

“Dan hari ini, suaranya tetap konsisten: jangan diam ketika kemanusiaan dilukai, tapi jangan membalas luka dengan peluru,” tegas Nazar.

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Populer
Atas