Trump Ultimatum BRICS, Ancam Kenakan Tarif Tambahan Jika Nekat Senggol Dolar AS
Presiden Trump melontarkan pernyataan keras terhadap kelompok BRICS, ancam bakal kenakan tarif impor tambahan 10 persen jika nekat ganggu AS
Penulis:
Namira Yunia Lestanti
Editor:
Pravitri Retno W
TRIBUNNEWS.COM - Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, kembali melontarkan pernyataan keras terhadap kelompok negara berkembang BRICS.
Dalam pidatonya saat penandatanganan GENIUS Act, Trump menegaskan BRICS akan segera runtuh jika kelompok tersebut nekat mengganggu kepentingan AS.
Trump juga tak segan mengancam bakal memukul ekonomi negara-negara BRICS dengan tambahan tarif impor 10 persen.
Keputusan ini bukan tanpa alasan. Dalam berbagai pernyataannya, Presiden Trump menegaskan langkah tersebut diambil sebagai bentuk respons terhadap apa yang ia anggap sebagai ancaman ekonomi dan geopolitik terhadap kepentingan negara.
"Ketika saya mendengar tentang kelompok yang bernama BRICS, yang terdiri dari enam negara, saya langsung menekan mereka dengan sangat keras. Dan jika mereka benar-benar terbentuk secara serius, kelompok itu akan segera bubar," ujar Trump, dikutip dari Reuters.
Alasan Trump Gertak BRICS
Adapun kelompok BRICS yang terdiri dari Brasil, Rusia, India, China, dan Afrika Selatan selama beberapa tahun terakhir mulai menonjol sebagai kekuatan ekonomi alternatif.
Mereka dikenal mendorong penggunaan mata uang lokal dalam transaksi internasional dan mengembangkan sistem keuangan yang lebih independen dari dominasi Barat.
Namun, upaya ini dianggap Trump ancaman yang dapat melemahkan dominasi dolar AS sebagai mata uang cadangan utama dunia.
BRICS juga dilihat sebagai blok ekonomi tandingan yang berupaya membentuk kekuatan baru di luar pengaruh AS dan sekutunya.
Dengan pertumbuhan ekonomi yang kuat, terutama dari China dan India, BRICS berpotensi menjadi poros kekuatan ekonomi alternatif yang dapat mengganggu dominasi institusi global yang selama ini dikendalikan oleh negara-negara Barat.
Baca juga: Istana Tegaskan Tarif Impor Amerika 32 Persen Bagi Indonesia Bukan Akibat RI Gabung BRICS
Alasan tersebut yang mendorong Trump untuk melayangkan tarif tambahan jika anggota BRICS mencoba "bermain-main" dengan kekuatan ekonomi AS.
"Mereka ingin menentang dominasi dolar. Saya katakan, kalau begitu, kita tekan dengan tarif 10 persen. Hasilnya? Mereka adakan pertemuan, tapi hampir tidak ada yang datang," kata Trump, dikutip dari siaran resmi Gedung Putih.
Selain faktor ekonomi, langkah ini juga diyakini sebagai strategi Trump untuk melemahkan potensi kekuatan koalisi BRICS yang bisa mengancam hegemoni ekonomi AS di masa depan.
Ia menuduh BRICS mempromosikan kebijakan anti-Amerika dan mengajak negara-negara lain untuk meninggalkan sistem finansial berbasis dolar.
Dengan menunjukkan sikap tegas terhadap kekuatan ekonomi asing, Trump kembali memainkan kartu nasionalisme ekonomi "America First", yang selama ini menjadi ciri khas pemerintahannya.
Baca tanpa iklan