Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●

Partai Baru Jepang Ini Apakah Anti-Islam? Mengenal Sanseito dan Kontroversinya

, sejumlah kebijakan dan pernyataan Sanseito dinilai mencerminkan sikap sangat berhati-hati terhadap orang asing

Tayang:
Tribun X Baca tanpa iklan
Editor: Eko Sutriyanto
zoom-in Partai Baru Jepang Ini Apakah Anti-Islam? Mengenal Sanseito dan Kontroversinya
Richard Susilo
PARTAI SANSEITO - Ketua Partai Sanseito, Sohei Kamiya. Pria kelahiran Kota Takahama, Distrik Oi, Prefektur Fuku Jepang tanggal 12 Oktober 1977 dikenal karena pidato-pidatonya yang provokatif dan pesan-pesannya yang sarat konspirasi 

 Apakah partai Sanseito (参政党), yang sering diterjemahkan sebagai "Partai Do It Yourself" ?

Partai ini  adalah partai politik sayap kanan di Jepang yang telah menarik perhatian karena retorika nasionalisnya, sikap anti-globalis, dan pandangan kontroversialnya tentang imigrasi, kesehatan masyarakat, dan isu-isu historis. 

Fakta Penting Tentang Sanseito

- Didirikan: Maret 2020, pada saat pandemi COVID-19 lalu.

- Pemimpin: Sohei Kamiya, dikenal karena pidato-pidatonya yang provokatif dan pesan-pesannya yang sarat konspirasi.

- Ideologi: Nasionalisme Jepang, ultrakonservatisme, populisme sayap kanan.

- Slogan: "Japanese First" — menekankan kedaulatan nasional dan pelestarian budaya Jepang.

- Keuntungan Elektoral: Hingga Juli 2025, partai ini memegang beberapa kursi di kedua majelis Parlemen baik majelis rendah maupun majelis tinggi dan telah memperluas pengaruhnya di majelis-majelis lokal dengan penggunaan media sosial yang aktif.

Keyakinan dan Kebijakan Inti
Rekomendasi Untuk Anda

- Anti-Imigrasi: Mendukung kontrol imigrasi yang snagat ketat dan menentang kepemilikan tanah oleh orang asing.

- Skeptisisme COVID-19: Menyebarkan misinformasi tentang vaksin dan langkah-langkah pandemi.

- Pendidikan & Kedaulatan Pangan: Mendorong pendidikan tradisional dan makanan organik yang bersumber secara lokal.

- Reformasi Konstitusi: Menyerukan penulisan ulang konstitusi Jepang pascaperang agar mencerminkan "nilai-nilai Jepang".

- Revisionisme Historis: Menyangkal berbagai peristiwa seperti Pembantaian Nanjing dan mempromosikan "pandangan sejarah yang menghargai diri sendiri".

Lalu Bagaimana Reaksi Publik di Jepang?

Beberapa kelompok hak asasi manusia dan organisasi masyarakat sipil mengkritik retorika Sanseito sebagai xenofobia dan memecah belah masyarakat di Jepang.

Meskipun kursinya terbatas, partai tersebut telah memengaruhi wacana politik arus utama, terutama seputar imigrasi dan identitas nasional sehingga beberapa politisi senior Jepang pun ada yang berpindah ke Sanseito.

Halaman 2/3
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Populer
Atas