Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●

Reaksi Dunia atas Rencana Netanyahu agar Israel Duduki Jalur Gaza

Sejumlah negara bereaksi dengan rencana Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu untuk menduduki Jalur Gaza.

Tayang:
Baca & Ambil Poin
zoom-in Reaksi Dunia atas Rencana Netanyahu agar Israel Duduki Jalur Gaza
Faceboook PM Israel
NETANYAHU BERPIDATO - Foto ini diambil dari Faceboook PM Israel pada Senin (16/6/2025), memperlihatkan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu pada hari Minggu (15/6/2025) mengancam Iran dengan lebih banyak serangan setelah Israel meluncurkan rudal ke Iran pada hari Jumat (13/6/2025). Pada 7 Agustus 2025, Netanyahu mengungkapkan rencana Israel untuk menduduki Jalur Gaza, sejumlah negara menolak. 

Kementerian tersebut menambahkan bahwa Israel harus segera menghentikan rencana perangnya, menyetujui gencatan senjata di Gaza, dan memulai negosiasi untuk solusi dua negara.

Ia menyatakan bahwa setiap langkah yang diambil oleh pemerintah Israel untuk melanjutkan apa yang digambarkan Türkiye sebagai genosida dan pendudukan tanah Palestina merupakan pukulan telak bagi keamanan global.

China menyatakan kekhawatiran mendalam pada hari Jumat atas rencana Israel untuk menguasai seluruh Jalur Gaza, dan mendesak Israel untuk segera menghentikan tindakan berbahayanya.

"Gaza adalah milik Palestina dan merupakan bagian integral dari wilayah Palestina," kata juru bicara Kementerian Luar Negeri Tiongkok kepada AFP dalam sebuah pesan.

Surat kabar Kanada, The Globe and Mail, menekankan bahwa Israel harus bertanggung jawab atas penderitaan warga Palestina di Jalur Gaza setelah menghentikan pasokan bantuan kemanusiaan. 

Menurut surat kabar tersebut, keputusan Israel untuk menghentikan bantuan kemanusiaan internasional ke Jalur Gaza merupakan bencana moral dan strategis.

Netanyah, yang berstatus buron Mahkamah Pidana Internasional (ICJ), menyatakan kepada Fox News bahwa Israel berencana menduduki seluruh Jalur Gaza namun tidak akan mempertahankannya.

Rekomendasi Untuk Anda

Menurutnya, wilayah itu nantinya akan diserahkan kepada pasukan Arab yang dianggap tidak mengancam Israel, sementara Israel hanya akan mengendalikan keamanannya tanpa menjadi pemerintahan di sana.

Pernyataan ini disampaikan sebelum Netanyahu bertemu sekelompok menteri senior untuk membahas rencana militer di Gaza.

Sementara itu, Kepala Staf Militer Israel, Eyal Zamir, mengungkap rencana memperluas perang di Gaza secara bertahap, namun memperingatkan langkah tersebut bisa membahayakan sandera.

Para pemimpin militer Israel pun dikabarkan menolak rencana pendudukan penuh atas Gaza.

Pendudukan Israel di Jalur Gaza pada 1967-2005

Israel menduduki Jalur Gaza sejak berakhirnya Perang Enam Hari melawan koalisi negara Arab (Mesir, Yordania, Suriah) pada 5–10 Juni 1967, hingga menarik diri pada 2005 di bawah pemerintahan PM Ariel Sharon melalui Disengagement Plan. 

Selama pendudukan, Israel membangun pemukiman Yahudi, fasilitas publik, infrastruktur militer, dan sejak 1994 mulai membangun tembok perbatasan sepanjang ±60 km yang selesai sekitar tahun 1996.

Pada 11 September 2005, semua pemukim dan tentara Israel keluar dari Gaza atas keputusan Perdana Menteri Israel saat itu, Ariel Sharon.

Sebagian besar bangunan yang dirikan oleh Israel di Jalur Gaza dihancurkan pada Agustus–September 2005. 

Halaman 2/3
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Populer
Atas