Israel Bunuh 5 Jurnalis Al Jazeera, Arab Saudi, UEA, dan Qatar Meradang
Serangan Israel di Gaza tewaskan 5 jurnalis Al Jazeera. Arab Saudi, UEA, dan Qatar mengecam keras dan desak PBB bertindak.
Penulis:
Andari Wulan Nugrahani
Editor:
Tiara Shelavie
Militer Israel (IDF) mengklaim Al-Sharif memimpin sel Hamas yang melakukan serangan roket terhadap warga sipil Israel, tuduhan yang dibantah keras oleh Al-Sharif sebelum kematiannya.
Upaya Putus Asa
Al Jazeera menyebut pembunuhan ini sebagai “upaya putus asa untuk membungkam suara-suara menjelang pendudukan Gaza.”
Komite Perlindungan Jurnalis (CPJ) sebelumnya telah menyatakan “sangat khawatir” terhadap keselamatan Al-Sharif, mengingat adanya kampanye fitnah yang diarahkan kepadanya.
CPJ mencatat 186 jurnalis tewas sejak perang dimulai hampir dua tahun lalu, 178 di antaranya warga Palestina yang dibunuh Israel.
Dikutip dari laman resmi Committee to Protect Journalists (CPJ), Komite Perlindungan Jurnalis (CPJ) adalah organisasi independen nirlaba yang berpusat di New York, Amerika Serikat, yang bertujuan untuk membela kebebasan pers dan melindungi hak jurnalis di seluruh dunia.
Mereka mendokumentasikan serangan terhadap jurnalis, memberikan bantuan darurat, dan mengadvokasi kebijakan yang mendukung kebebasan media.
Kecaman Internasional
Kecaman internasional segera mengalir. Kementerian Luar Negeri Arab Saudi mengutuk “kejahatan kelaparan dan pembersihan etnis” yang dilakukan Israel, menegaskan dukungan terhadap hak rakyat Palestina.
Baca juga: Serangan Drone Israel Bunuh 5 Staf Al Jazeera di Gaza Termasuk Jurnalis Anas al-Sharif
Uni Emirat Arab memperingatkan “konsekuensi bencana, termasuk hilangnya nyawa tak berdosa” dan mendesak PBB untuk bertindak.
Sementara itu, Qatar menuduh Israel melakukan pelanggaran hukum humaniter internasional secara terus-menerus.
Ketiga negara tersebut menegaskan kembali komitmen pada solusi dua negara sebagai jalan menuju perdamaian.
Kronologi Pembunuhan 5 Jurnalis Al Jazeera oleh Israel di Gaza
Pada Minggu (10/8/2025) malam, dunia dikejutkan oleh serangan udara Israel yang menewaskan lima jurnalis Al Jazeera di depan gerbang utama Rumah Sakit Al-Shifa, Kota Gaza.
Serangan ini memicu kecaman internasional dan memperkuat sorotan terhadap keselamatan jurnalis di zona konflik.
Peristiwa tragis ini terjadi ketika sebuah tenda liputan bertanda “Pers” di depan Rumah Sakit Al-Shifa, Kota Gaza, menjadi sasaran serangan drone Pasukan Pertahanan Israel (IDF).
Tenda tersebut digunakan para jurnalis Al Jazeera untuk meliput perkembangan perang di wilayah tersebut.
Serangan mematikan itu merenggut nyawa lima jurnalis Al Jazeera yang tengah bertugas.