Volltexte
Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Satu Aplikasi Jutaan
Cerita
Indonesia
DOWNLOAD NOW!
Tribun
LIVE ●
Deutsche Welle

Perang Saudara di Sudan: Luka Kemanusiaan yang Tak Kunjung Pulih

Hampir tiga tahun sejak perang di Sudan dimulai, serangan drone dan kekerasan seksual terus terjadi tanpa tanda-tanda mereda. Apakah…

Tribun X Baca tanpa iklan
zoom-in Perang Saudara di Sudan: Luka Kemanusiaan yang Tak Kunjung Pulih
Deutsche Welle
Perang Saudara di Sudan: Luka Kemanusiaan yang Tak Kunjung Pulih 

Hampir tiga tahun sejak perang di Sudan dimulai, warga sipil semakin sering menjadi sasaran serangan udara. Dalam beberapa hari terakhir, gelombang serangan pesawat nirawak atau drone menewaskan puluhan orang di Negara Bagian White Nile dan wilayah Kordofan.

Awal pekan ini, sebuah drone menghantam mobil pick-up yang membawa pelayat menuju sebuah pemakaman di Kordofan Barat. Menurut laporan kantor berita AFP, sekitar 40 orang tewas, banyak di antaranya perempuan.

Tidak satu pun dari dua pihak yang bertikai di Sudan, Angkatan Bersenjata Sudan (SAF) maupun pasukan paramiliter Rapid Support Forces (RSF), atau sekutu mereka yang mengeklaim bertanggung jawab atas serangan tersebut.

Menurut analisis dari Armed Conflict Location & Event Data, lembaga pemantau konflik global independen, sedikitnya 198 serangan drone dilancarkan oleh kedua pihak sepanjang Januari dan Februari.

"Lonjakan serangan drone menunjukkan bahwa, meskipun ada perang dan ketegangan di wilayah Timur Tengah lainnya, pasokan untuk pihak-pihak yang bertikai tetap berjalan," ujar analis kebijakan Sudan independen, Hamid Khalafallah, kepada DW.

Khalafallah mengatakan kekerasan, termasuk perang drone, kemungkinan akan meningkat dalam beberapa bulan mendatang. "Kedua pihak akan berusaha meraih sebanyak mungkin kemajuan di medan perang selama musim kemarau saat ini, karena memindahkan pasukan dan peralatan akan menjadi jauh lebih mahal dan rumit ketika musim hujan dimulai pada Juni atau Juli," tandasnya.

Pertempuran saat ini sebagian besar terpusat di wilayah Kordofan, kawasan strategis yang memisahkan wilayah Sudan utara dan tengah yang dikuasai tentara — termasuk ibu kota Khartoum — dari wilayah Darfur dan sebagian wilayah selatan yang dikuasai RSF.

Rekomendasi Untuk Anda

Perang di Sudan pecah sekitar 15 April 2023, ketika perebutan kekuasaan terkait integrasi RSF ke dalam Angkatan Bersenjata Sudan memicu eskalasi konflik. Organisasi bantuan global memperkirakan hingga 250.000 orang telah tewas sejauh ini. Jumlah korban yang pasti sulit diketahui karena pertempuran masih berlangsung dan akses ke wilayah konflik sangat terbatas.

Krisis kemanusiaan berkepanjangan di Sudan

Menurut badan pengungsi PBB dan organisasi bantuan internasional di lapangan, perang di Sudan telah menyebabkan krisis pengungsian terbesar di dunia, dengan hingga 14 juta orang mengungsi baik di dalam negeri maupun ke luar negeri.

Pertempuran juga memicu krisis kemanusiaan terbesar di dunia, termasuk pembunuhan massal dan kekerasan seksual yang meluas. Menurut UNESCO, lebih dari 12 juta perempuan dan anak perempuan — dari total populasi sekitar 50 juta orang — berisiko mengalami kekerasan berbasis gender di Sudan.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada Januari memperingatkan bahwa lebih dari 20 juta orang di Sudan membutuhkan bantuan kesehatan. Wabah kolera, malaria, dan demam berdarah menyebar di seluruh 18 negara bagian seiring runtuhnya sistem kesehatan, air bersih, dan sanitasi.

Kelompok hak asasi manusia menyatakan bahwa kedua pihak dalam konflik telah melakukan kekejaman yang dapat dikategorikan sebagai kejahatan perang dan bahkan tindakan genosida. Meski kekerasan terus berlangsung, termasuk pembunuhan massal warga sipil oleh RSF di kota El-Fasher, Darfur,pada akhir Oktober, berbagai survei menunjukkan bahwa krisis di Sudan tetap menjadi salah satu krisis global yang paling diabaikan.

"Sudan sedang menghadapi krisis kemanusiaan yang mendalam dan berkepanjangan yang semakin hilang dari perhatian internasional,” kata direktur organisasi bantuan Action Against Hunger Samy Guessabi di Sudan.

Dalam tiga tahun terakhir, Guessabi mengatakan ia menyaksikan dampak kumulatif dari konflik bersenjata, pengungsian massal, dan runtuhnya ekonomi. "Yang kami lihat setiap hari bukan hanya kelaparan, tetapi juga terkikisnya ketahanan masyarakat secara bertahap ketika keluarga mulai melewatkan waktu makan dan menjual aset yang tersisa," ujarnya.

Perempuan dan anak perempuan paling terdampak

Guessabi mengatakan perempuan dan anak perempuan menanggung dampak penderitaan yang tidak proporsional.

Sumber: Deutsche Welle
Halaman 1/2
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Populer
Atas