Kepala Kontraterorisme AS Joe Kent Mundur Imbas Perang Iran
Dalam surat pengunduran dirinya, Direktur Pusat Kontraterorisme Nasional AS (NCTC) Joe Kent mendesak Donald Trump untuk tidak terpengaruh…
Joe Kent, Direktur Pusat Kontraterorisme Nasional (National Counterterrorism Center/NCTC) Amerika Serikat, mengundurkan diri dari jabatannya pada Selasa (17/03). Ia menyebut keputusan Presiden AS Donald Trump untuk berperang dengan Iran sebagai alasan utamanya.
NCTC adalah lembaga intelijen yang bertugas mengoordinasikan analisis ancaman terorisme dan berbagi informasi antarinstansi keamanan di AS.
"Saya tidak bisa, secara hati nurani, mendukung perang yang sedang berlangsung di Iran. Iran tidak menimbulkan ancaman langsung bagi negara kami, dan jelas bahwa perang ini dimulai karena tekanan dari Israel serta lobi kuatnya di AS,” tulis Kent dalam unggahan di X.
Kent adalah seorang veteran pasukan khusus berusia 45 tahun yang memiliki pengalaman 20 tahun di militer AS dan juga dikenal memiliki sejumlah keterkaitan yang kontroversial dengan tokoh dan kelompok politik sayap kanan ekstrem. Ia mengatakan merupakan "sebuah kehormatan” bisa bertugas di bawah Presiden AS Donald Trump dan Direktur Intelijen Nasional Tulsi Gabbard.
"Saya berharap Anda akan merenungkan kembali apa yang sedang kita lakukan di Iran, dan untuk siapa kita melakukannya,” tulis Kent dalam surat pengunduran dirinya kepada Trump.
"Anda bisa membalik arah dan menentukan jalan baru bagi negara kita, atau membiarkan kita semakin tergelincir menuju kemunduran dan kekacauan. Keputusan ada di tangan Anda.”
Kent merupakan sekutu dekat Gabbard, seorang politikus AS yang dikenal menentang perang yang bertujuan mengganti rezim di negara lain. Sebelumnya, Kent pernah menjabat sebagai kepala staf sementara Gabbard.
Jejak hubungan dengan sayap kanan, teori konspirasi, dan antisemitisme
Saat mengumumkan pengunduran dirinya, Kent menuduh bahwa "pejabat tinggi Israel dan sejumlah tokoh berpengaruh di media AS menjalankan kampanye disinformasi … untuk mendorong perang dengan Iran.”
Pernyataannya yang menyinggung Israel serta dugaan manuver politik Yahudi-AS mengingatkan pada narasi yang sering muncul di kalangan kelompok sayap kanan ekstrem, termasuk teori konspirasi antisemit yang menuduh orang Yahudi berpengaruh mengendalikan industri media.
Kent dua kali mencalonkan diri sebagai anggota Dewan Perwakilan Rakyat AS, tapi kalah dalam kedua pemilu tersebut. Dalam kampanyenya pada 2022, ia mempekerjakan Graham Jorgensen, anggota kelompok militan sayap kanan Proud Boys, sebagai konsultan.
Joey Gibson, pendiri kelompok nasionalis Kristen Patriot Prayer, juga termasuk tokoh sayap kanan garis keras yang memiliki hubungan dengan Kent.
Saat menghadiri sidang konfirmasi di Senat AS untuk jabatan direktur NCTC, Kent mengakui bahwa seorang konsultan sempat mengatur panggilan telepon dengan influencer politik sayap kanan ekstrem Nick Fuentes dalam salah satu kampanye pemilihannya.
Fuentes dikenal sebagai nasionalis kulit putih yang secara terbuka menyangkal tragedi Holocaust, serta pernah menjadi tamu pribadi Trump dalam makan malam di kediamannya di Mar-a-Lago pada 2022.
Sebelum mencalonkan diri ke Kongres, Kent juga pernah menyebarkan teori konspirasi yang menuduh agen federal berada di balik serangan 6 Januari 2021 ke Gedung Capitol AS, ketika para pendukung Trump menyerbu gedung parlemen setelah hasil pemilu diumumkan. Ia juga menyebarkan klaim bahwa Trump, bukan Presiden Joe Biden, yang memenangkan pemilu 2020.
Kedua klaim tersebut telah berulang kali dibantah melalui berbagai penyelidikan resmi dan proses hukum. Namun, narasi itu masih dipercaya oleh sebagian pendukung Trump dan kelompok sayap kanan ekstrem di AS.
