Volltexte
Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Satu Aplikasi Jutaan
Cerita
Indonesia
DOWNLOAD NOW!
Tribun
LIVE ●
Deutsche Welle

Melihat Peran Pakistan dalam Gencatan Senjata AS–Iran

AS, Israel, dan Iran sepakat melakukan gencatan senjata selama dua minggu setelah Pakistan menjadi mediator, sebuah pencapaian diplomatik…

Tribun X Baca tanpa iklan
zoom-in Melihat Peran Pakistan dalam Gencatan Senjata AS–Iran
Deutsche Welle
Melihat Peran Pakistan dalam Gencatan Senjata AS–Iran 

Pakistan dipuji karena berhasil meyakinkan Amerika Serikat (AS) dan Iran untuk menghentikan perang selama dua minggu ke depan.

Presiden AS Donald Trump mengumumkan pada Selasa (09/04), bahwa ia menerima proposal gencatan senjata dari Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif, dan setuju untuk menangguhkan serangan terhadap Iran selama dua minggu, "dengan syarat Republik Islam Iran menyetujui pembukaan Selat Hormuz secara lengkap, aman, dan segera.”

Trump sebelumnya sempat mengancam Iran dengan "kematian seluruh peradaban" melaluai pesan di Truth Social yang muncul hanya beberapa jam sebelum tenggat waktu yang ia tetapkan sendiri.

"Pakistan memungkinkan gencatan senjata dengan memposisikan diri sebagai perantara yang kredibel dan tepercaya pada saat eskalasi akut," kata Raja Qaiser Ahmed, seorang ahli hubungan internasional di Universitas Quaid-e-Azam Islamabad, kepada DW.

"Pakistan mengaktifkan diplomasi jalur belakang, menyampaikan jaminan kepada Washington dan Teheran, dan membantu menyelaraskan kepentingan langsung seputar de-eskalasi."

Perdana Menteri Pakistan Sharif dan Kepala Angkatan Darat Pakistan Asim Munir, telah mempertahankan hubungan baik dengan Trump sejak Mei lalu, ketika Pakistan terlibat dalam eskalasi militer singkat, tapi mematikan, dengan India. Trump setelahnya mengeklaim berperan dalam "mengakhiri" perang antara Islamabad dan New Delhi tersebut..

Kenapa Pakistan bisa dipercaya AS-Iran?

Pakistan memiliki hubungan yang bersahabat, tapi kompleks, dengan rezim Iran.

Rekomendasi Untuk Anda

"Pakistan memanfaatkan jalur keamanan dan diplomasi dengan AS, sambil tetap menjaga hubungan dengan Iran, sehingga bisa mewujudkan potensi gencatan senjata yang nyata. Kontribusi kuncinya bukanlah paksaan, melainkan koordinasi, menyusun langkah pertama yang dapat diterima secara bersama-bersama untuk mengurangi risiko dan menciptakan ruang dialog," tambah Ahmed.

Elizabeth Threlkeld, Direktur Asia Selatan di Stimson Center yang berbasis di Washington, mengatakan kepada DW bahwa Pakistan "akan berupaya mempertahankan momentum dalam negosiasi dan mengunci kesepakatan yang lebih tahan lama antara AS dan Iran sebelum jendela peluang tertutup."

"Bahkan mencapai gencatan senjata merupakan pencapaian luar biasa bagi Islamabad, dan para pemimpinnya akan melanjutkan keterlibatan mereka dengan kedua belah pihak dan mitra utama untuk melanjutkan pembicaraan dan meminimalkan risiko tindakan yang merusak," tambahnya.

Jalan yang berliku

Meskipun belum jelas apakah gencatan senjata akan bertahan, perdana menteri Pakistan optimistis. Sharif mengonfirmasi bahwa pemerintahnya telah mengundang delegasi AS dan Iran ke Islamabad pada hari Jumat (10/04) untuk "bernegosiasi lebih lanjut guna mencapai kesepakatan yang konklusif untuk menyelesaikan perselisihan."

Namun, menciptakan jalan menuju penyelesaian melalui negosiasi antara AS, Israel, dan Iran tidak semudah membalikkan telapak tangan.

"Negosiasi tidak akan mudah bagi Islamabad, tetapi gencatan senjata adalah langkah awal yang positif. Kita akan lihat berapa lama gencatan senjata ini akan bertahan," kata Zahid Hussain, seorang analis politik, kepada DW.

"Masih ada pertanyaan tentang keseriusan Iran dan AS dalam mengejar perdamaian abadi. Teheran tidak memercayai Washington, dan Presiden Trump menghadapi tekanan yang meningkat untuk mengakhiri perang di tengah kritik bahwa Washington mungkin telah salah perhitungan dalam strateginya."

Selain tantangan domestik, Trump juga dinilai menghadapi kekhawatiran yang diangkat oleh sekutu Barat. Hussain menambahkan bahwa Israel "dengan enggan menerima gencatan senjata sambil melanjutkan operasi di Lebanon."

Sumber: Deutsche Welle
Halaman 1/2
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Populer
Atas