Volltexte
Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●
Deutsche Welle

Krisis Energi, Konsumen Asia Tenggara Lirik Mobil Listrik

Krisis energi akibat perang Iran mendorong lonjakan harga minyak dan kenaikan permintaan mobil listrik di Asia Tenggara. Konsumen…

Tayang:
Tribun X Baca tanpa iklan
zoom-in Krisis Energi, Konsumen Asia Tenggara Lirik Mobil Listrik
Deutsche Welle
Krisis Energi, Konsumen Asia Tenggara Lirik Mobil Listrik 

Kenaikan harga energi global akibat perang Iran mendorong negara-negara Asia Tenggara mempercepat pengembangan kendaraan listrik. Lonjakan harga minyak membuat konsumen dan pemerintah di kawasan ini mulai mencari alternatif terhadap kendaraan berbahan bakar fosil.

Harga minyak mentah dunia telah melonjak sekitar 50 persen sejak konflik dimulai pada akhir Februari dan kembali menembus 100 dolar AS per barel. Kondisi ini membuat biaya bahan bakar meningkat tajam.

Gangguan pasokan energi juga terkait dengan situasi di Selat Hormuz, jalur vital yang sebelumnya mengalirkan sebagian besar minyak dan gas menuju Asia. Banyak negara di kawasan kini berusaha menghemat energi sekaligus memperkuat cadangan mereka.

Di Indonesia, Presiden Prabowo Subianto pada Maret mengumumkan dorongan baru bagi kendaraan listrik, termasuk rencana memproduksi mobil listrik serta memperluas infrastruktur pengisian daya.

“Impian transportasi listrik kembali mendapat perhatian,” kata Putra Adhiguna dari Energy Shift Institute, sebuah lembaga pemikir di Jakarta.

Perusahaan-perusahaan dari Cina memainkan peran penting dalam rantai pasok energi bersih Indonesia. Mereka menandatangani proyek senilai lebih dari 54 miliar dolar AS (sekitar Rp864 triliun) dengan Perusahaan Listrik Negara pada 2023 serta menambah komitmen investasi sebesar 10 miliar dolar AS (sekitar Rp160 triliun) ketika Prabowo berkunjung ke Beijing pada 2024.

Konsumen beralih dari mobil bensin

Lonjakan harga bahan bakar juga mulai mengubah perilaku konsumen di Asia. Banyak pembeli kini mempertimbangkan kendaraan listrik untuk menekan pengeluaran rumah tangga.

Rekomendasi Untuk Anda

Di Hanoi, Vietnam, pekerja kantor Do Thi Lan mengatakan keluarganya sedang mempertimbangkan membeli kendaraan listrik karena biaya bensin terus meningkat.

“Kami harus menghitung pengeluaran bulanan karena uang yang kami keluarkan untuk bensin terus naik,” katanya saat mengunjungi ruang pamer atau showroom kendaraan listrik VinFast.

Lan mengatakan keluarganya saat ini masih menggunakan mobil berbahan bakar bensin, tetapi mulai mempertimbangkan kendaraan listrik sebagai pilihan yang lebih hemat.

Dao Thi Hue, yang bekerja sebagai guru, juga mengunjungi showroom tersebut menyampaikan pandangan serupa.

“Mengendarai kendaraan listrik jauh lebih baik dibandingkan kendaraan berbahan bakar minyak, baik dari sisi biaya maupun karena tidak perlu antre untuk mengisi bahan bakar,” ujarnya.

Penjualan kendaraan listrik melonjak

Perubahan preferensi konsumen segera terlihat pada angka penjualan kendaraan listrik di kawasan.

Di Vietnam, produsen kendaraan listrik VinFast melaporkan penjualan mobil mencapai 27.600 unit pada Maret, meningkat 127 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Sekitar 40 persen mobil yang terjual di Vietnam pada 2025 sudah merupakan kendaraan listrik, dan tren tersebut kini semakin cepat.

Sumber: Deutsche Welle
Halaman 1/3
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Populer
Atas