Selat Hormuz: Kisah ABK terapung 24 jam di laut setelah rudal menghantam kapal
Seorang anak buah kapal (ABK) bertahan hidup dengan mengapung selama 24 jam di laut setelah kapal tempatnya bekerja terkena serangan…
Kapal Hassan baru saja selesai memuat semen di sebuah pelabuhan di Iran selatan ketika Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran. Gelombang ledakan tanpa henti menyebabkan puing-puing berjatuhan di pelabuhan tersebut.
"Seperti di film," kata ABK (anak buah kapal) asal Pakistan itu, yang namanya telah diubah.
"Semua serangan terjadi di dekat kami."
AS dan Israel melancarkan serangkaian serangan terhadap berbagai lokasi pemerintahan dan militer Iran pada 28 Februari.
Beberapa hari kemudian, kapal yang ditumpangi Hassan memutuskan untuk berlayar. Namun kapal tersebut tenggelam setelah dihantam rudal. Mereka tersapu ke laut dan, kata Hassan, yang dapat mereka pegang hanyalah jaket pelampung dan pipa-pipa yang mengapung.
"Airnya sangat bergelombang, dan sangat dingin," kata pria berusia 22 tahun itu.
Pada awalnya mereka berharap bantuan akan datang, tetapi suasana hati mereka memburuk dari menit ke menit. Mereka bahkan tidak sanggup saling menatap.
"Kami pikir kami akan tenggelam di laut, dan tak seorang pun akan tahu," lanjutnya. "Rasanya waktu berhenti dan kami bisa mati kapan saja."
Setelah hampir 24 jam di laut, Hassan dan lima rekannya—termasuk seorang sesama warga Pakistan dan empat warga Iran—diselamatkan oleh sebuah kapal Iran yang melintas.
"Saya tidak punya harapan untuk selamat," kata Hassan. "Tapi ketika kapal itu menyelamatkan kami dan memberi kami makanan dan air, rasanya seperti keajaiban dan saya diberi kehidupan baru."
Hassan adalah salah satu dari sekitar 20.000 pelaut di 1.600 kapal yang terjebak di Teluk setelah Iran memblokir Selat Hormuz sebagai tanggapan atas serangan AS–Israel.
Perkiraan jumlah tersebut berasal dari Organisasi Maritim Internasional (IMO), yang mengecam keras ancaman terhadap kapal dan mendesak negara-negara untuk "mendukung upaya diplomatik guna mengamankan evakuasi" para pelaut.
Sekarang setelah gencatan senjata diberlakukan, Hassan percaya hal itu tidak memberikan "manfaat nyata"—terutama setelah AS mulai memblokade pelabuhan-pelabuhan Iran.
"Saya selalu mendengar dari senior-senior saya bahwa bahkan selama perang, kapal biasanya tidak dibatasi dan pelabuhan tidak menjadi sasaran," katanya.
Baca tanpa iklan