AS dan Cina Berebut Masa Depan Energi
Blokade Selat Hormuz berdampak besar bagi pasar energi global. Di balik layar, terjadi pertarungan lain saat AS dan Cina berlomba…
Apakah ini berarti bagi Trump, minyak pada dasarnya merupakan faktor kekuatan geopolitik yang harus dimiliki dan dikendalikan? "Tentu saja," kata Gloystein dari Eurasia Group. Ia menyoroti cara AS bernegosiasi dengan mitra dagangnya: "Tahun lalu, AS menyatakan: Sebagai imbalan atas tarif yang relatif rendah, Eropa harus membeli lebih banyak minyak dan gas Amerika." Ia berkomentar bahwa Washington menggunakan taktik yang sama dengan mitra dagang lainnya, seperti Jepang, Thailand, atau India, dan berupaya mengunci kontrak pasokan selama mungkin.
Gloystein menjelaskan kebijakan energi AS di bawah Trump sebagai berikut: "Jika sebuah perusahaan Jerman meminta gas alam cair (LNG) dari AS, pemasok baru tersebut akan berkata: 'Oke, kami dapat mengirimkan dua hingga tiga juta ton LNG ke Jerman mulai tahun 2028, dan itu akan menjadi kontrak 20 tahun.' Dengan begitu, mereka telah mengintegrasikan gas ke dalam sistem energi Jerman untuk 20 tahun ke depan. Amerika sangat aktif melakukan hal ini."
AS sebagai penjamin pasokan gas dan minyak
"AS adalah sumber pertumbuhan terbesar dalam produksi minyak global," kata Fatih Birol. Kepala Badan Energi Internasional di Paris tersebut memperingatkan agar tidak hanya berfokus pada sumber energi fosil. "Kita tidak boleh lupa: Keamanan energi di abad ke-21 bukan hanya berarti ketersediaan minyak dan gas, tetapi juga diversifikasi rantai pasok untuk teknologi bersih."
Di sini, Cina jelas memiliki keunggulan. Revolusi serpih telah membantu AS mencapai kemandirian energi dan meningkatkan pengaruh geopolitiknya. Cina bertujuan melakukan hal yang sama melalui kepemimpinan globalnya dalam teknologi "hijau". Namun, perjalanannya masih panjang untuk mencapai tujuan tersebut: Sekitar 60?ri total kebutuhan energi Cina masih dipenuhi oleh batu bara.
Pakar energi Gloystein dan Goldthau meyakini bahwa tren global jelas mengarah pada energi terbarukan, dan tren ini sudah ada sebelum perang Iran, blokade Selat Hormuz, serta harga minyak dan gas yang selangit. Namun, siapa yang pada akhirnya akan menang: dominasi energi fosil Amerika Serikat, atau negara terelektrifikasi yang dipromosikan oleh Beijing?
"Jika saya harus bertaruh pada sesuatu sekarang," kata Goldthau, "saya akan memilih negara terelektrifikasi, yang tidak hanya berusaha mengarahkan pasokan ke sumber energi domestik, yang sebagian besar adalah energi terbarukan, tetapi juga, yang terpenting, mengembangkan teknologi yang dibutuhkan oleh negara lain."
Artikel ini diadaptasi dari DW bahasa Inggris
Diadaptasi oleh Algadri Muhammad
Editor: Hani Anggraini/Ayu Purwaningsih

Baca tanpa iklan