Volltexte
Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●
Deutsche Welle

Hubungan AS dan India Retak, Trump Jadi Sorotan

Warga India menghadapi tekanan ekonomi akibat perang Iran, dan sentimen publik terhadap Presiden Donald Trump mulai memburuk. Namun…

Tayang:
Tribun X Baca tanpa iklan
zoom-in Hubungan AS dan India Retak, Trump Jadi Sorotan
Deutsche Welle
Hubungan AS dan India Retak, Trump Jadi Sorotan 

New Delhi pekan lalu mengecam sebagai komentar yang “tidak pantas” unggahan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump di media sosial yang menyebut India sebagai “lubang neraka.”

Trump membagikan cuplikan dari acara radio The Savage Nation, di mana komentator konservatif Michael Savage mengatakan: “Seorang bayi di sini langsung menjadi warga negara, lalu mereka membawa seluruh keluarga dari Cina atau India atau lubang neraka lain di planet ini.”

Kementerian Luar Negeri India menggambarkan pernyataan tersebut sebagai “jelas tidak berdasar, tidak pantas, dan tidak berkelas,” dalam pernyataan yang dikutip Reuters.

“Pernyataan tersebut jelas tidak mencerminkan realitas hubungan India-AS, yang telah lama didasarkan pada saling menghormati dan kepentingan bersama.”

Komentar ini muncul di tengah tekanan ekonomi yang lebih luas yang semakin membebani sentimen publik di India terhadap Washington.

Mengapa hubungan India-AS tetap penting

Hubungan India–AS merupakan bagian sentral dari strategi global kedua negara, dibangun di atas kepentingan ekonomi, keamanan, dan teknologi yang sama.

Amerika Serikat adalah mitra dagang terbesar India dan tujuan utama bagi diasporanya.

Rekomendasi Untuk Anda

New Delhi juga menjadi kunci dalam strategi Indo-Pasifik Washington, terutama sebagai penyeimbang terhadap meningkatnya pengaruh Cina.

Meski hubungan formal tidak mungkin berubah, pandangan India yang dulu aspiratif terhadap AS kini semakin bergeser menjadi lebih transaksional.

India memasuki tahun 2025 dengan optimisme terhadap apa yang akan dibawa masa jabatan kedua Trump bagi hubungan bilateral.

Lima bulan kemudian, Presiden AS dan Perdana Menteri India Narendra Modi terlibat dalam ketegangan diplomatik setelah Trump mengumumkan gencatan senjata antara India dan Pakistan pasca-serangan Pahalgam di Kashmir yang dikelola India, dengan mengklaim dirinya sebagai perantara. Pakistan mendukung klaim tersebut.

Namun India dengan tegas membantah klaim Trump, menegaskan bahwa pembicaraan gencatan senjata dilakukan secara bilateral dan keterlibatan pihak ketiga dalam isu Kashmir tidak dapat diterima.

Bagaimana tarif AS terhadap India mengguncang kepercayaan bilateral

Pada Juli 2025, AS menyatakan akan mengenakan tarif sebesar 50% terhadap India, salah satu yang tertinggi di dunia, sebagian karena India membeli minyak Rusia.

Dalam laporan Agustus 2025 yang diterbitkan oleh lembaga think tank Delhi Policy Group, mantan diplomat Hemant Krishan Singh menyebut hubungan AS-India berada pada “titik belok.”

“Menjadikan India sebagai sasaran atas pembelian minyak Rusia sambil memberi kelonggaran kepada pembeli lain (dan yang lebih besar) sulit dianggap sebagai hal lain selain tindakan bermusuhan,” tulis Singh.

Sumber: Deutsche Welle
Halaman 1/3
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Populer
Atas